Investasi Jumbo dan Kenaikan Harga Pulp, Begini Prediksi Saham Indah Kiat (INKP)
JAKARTA, Investortrust.id – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) tengah berada dalam situasi menguntungkan untuk menopang pertumbuhan kinerja keuangan ke depan.
Analis Trimegah Sekuritas Alpinus Dewangga dan Willinoy Sitorus mengatakan, Indah Kiat (INKP) bakal tetap eksis di tengah kondisi makro saat ini, seperti penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan kondisi lainnya. Pendapatan perseroan diprediksi tetap kokoh ke depan, menyusul 60% pendapatan bersumber dari penjualan ekspor, khususnya ekspor bubur kertas (pulp).
Baca Juga
Jokowi Sebut Potensi Perdagangan Karbon Capai Rp 3 Ribu Triliun
Perseroan, terang dia, juga didukung penguatan harga pulp dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data kenaikan harga bubur kertas telah mencapai 9% dalam dua bulan terakhir, terutama ditopang kenaikan permintaan dari Cina. Hal ini telah menjadi sentimen positif jangka pendek terhadap pergerakan harga saham perseroan.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, Indah Kiat (INK) didukung ekspansi besar-besaran bernilai jumbo. Investasi besar tersebut membuat perseroan bisa mendapatkan tax holiday selama 20 tahun yang tentu berimbas terhadap kenaikan nilai kompetitif perseroan ke depan.
Indah Kiat (INKP) bakal berinvestasi hingga US$ 3,6 miliar untuk pembangunan pabrik dengan kapasitas 3,9 juta ton di Karawang. Dengan investasi jumbo tersebut, pabrik ini akan mendapatkan fasilitas tax holiday selama 20 tahun.
Pendirian pabrik baru tersebut juga tentu memperkuat posisi perseroan sebagai pabrik pulp dan kertas terintegrasi di Indonesia yang bisa berimbas terhadap struktur biaya lebih baik. Investasi tersebut juga memperkuat dominasi perseroan sebagai produsen kerta terbesar di Asia.
Baca Juga
Meski Harga Melesat, Potensi Cuan Indah Kiat (INKP) masih Tersisa 100%
Hal ini mendorong Trimegah Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham INKP dengan target harga Rp 18.300. Dengan target harga tersebut, terbuka potensi penguatan harga saham INKP hingga 50%.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan proyeksi laba inti perseroan senilai US$ 517 juta tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu US$ 857 juta. Pendapatan perseroan juga diprediksi mencapai US$ 3,59 miliar tahun 2023, dibandingkan perolehan tahun 2022 senilai US$ 4 miliar.

