Laba Turun 34,47% pada 2025, Sinar Terang (MINE) Optimistis Industri Nikel 2026
JAKARTA, investortrust.id – PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) membukukan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp 200,83 miliar pada 2025 atau turun 34,47% secara tahunan (year on year/yoy). Meski demikian, manajemen tetap optimistis prospek industri nikel nasional pada 2026 akan lebih baik.
Direktur Utama Sinar Terang Mandiri Ivo Wangarry mengatakan, kinerja laba tersebut tetap mencerminkan operasional perseroan yang solid di tengah meningkatnya aktivitas proyek.
“Laba 2025 mencerminkan kinerja operasional perseroan yang tetap solid, seiring meningkatnya aktivitas proyek,” ujar Ivo dalam keterangan resmi yang diterima Kamis (12/3/2026).
Baca Juga
Dari sisi pendapatan, emiten penyedia jasa penunjang pertambangan dan penggalian ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp 2,36 triliun pada 2025 atau tumbuh 11,49% yoy. Kontribusi terbesar berasal dari segmen jasa penambangan yang mencapai Rp 2,18 triliun.
Sementara itu, segmen jasa konstruksi menyumbang pendapatan sebesar Rp 180,1 miliar, meningkat lebih dari 12 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi kegiatan operasional perseroan di sejumlah proyek pertambangan nikel.
Ivo menilai kinerja sepanjang 2025 mencerminkan upaya perseroan dalam menjaga momentum pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri pertambangan.
Baca Juga
Saat Kebijakan Free Float 15% Diterapkan, BSDE justru Borong Saham DUTI Rp 559 Miliar Jadi 99,41%
“Kami bersyukur perseroan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan memperkuat struktur aset di tengah berbagai tantangan operasional. Hal ini menunjukkan strategi ekspansi operasional dan penguatan kapasitas produksi mulai memberikan hasil positif,” kata Ivo.
Seiring peningkatan pendapatan, struktur aset perseroan juga mengalami penguatan. Total aset MINE tercatat naik 28,6% menjadi Rp 2,07 triliun pada 2025 dari Rp 1,61 triliun pada 2024.
Peningkatan tersebut terutama ditopang kenaikan aset tidak lancar yang tumbuh 48,5% menjadi Rp 988,77 miliar. Kenaikan ini mencerminkan investasi perseroan untuk mendukung kegiatan operasional, termasuk penguatan armada alat berat dan infrastruktur penunjang penambangan.
“Ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas layanan kepada para mitra kerja,” ujar Ivo.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 0,37% dan Nilai Transaksi Turun Drastis, Sebaliknya KUAS dan ALKA Melesat
Kinerja MINE juga didukung kerja sama dengan sejumlah mitra di industri pertambangan. Sepanjang 2025, kontribusi pendapatan terbesar berasal dari PT Weda Bay Nickel, diikuti PT Hengjaya Mineralindo dan PT Sulawesi Cahaya Mineral.
Menurut Ivo, diversifikasi proyek dan penguatan kemitraan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kinerja perseroan. Ke depan, manajemen akan terus memperluas peluang kerja sama dengan berbagai mitra strategis.
“Kami optimistis prospek industri nikel nasional masih sangat menjanjikan seiring meningkatnya permintaan global. Perseroan akan terus memperkuat kapasitas operasional, termasuk memperluas lini usaha baru serta tetap menjaga kualitas layanan,” kata Ivo.

