Perang AS-Iran Picu Lonjakan Minyak, Pasar Kripto Babak Belur di Awal Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran selama akhir pekan mendorong lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran aksi jual di pasar keuangan saat pembukaan perdagangan Senin (2/3/2026).
Ketegangan meningkat setelah Iran mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% hingga 30% aliran minyak dunia. Pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas di selat tersebut memicu kepanikan pasar energi.
Analis kripto Crypto Patel memperkirakan harga minyak dapat dibuka di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel pada awal pekan. Jika gangguan berlanjut, harga bahkan berpotensi melonjak hingga US$ 120–US$150 per barel. Data broker IG juga menunjukkan minyak mentah AS berpotensi naik sekitar 9% pada sesi berikutnya.
Baca Juga
Kenaikan harga minyak tersebut dinilai dapat membebani pasar keuangan global, termasuk aset kripto. Melansir Coingape, Senin (2/3/2026) Anthony Pompliano memproyeksikan minyak dan emas akan menguat tajam, sementara pasar saham berisiko melemah. Ia juga memperkirakan obligasi pemerintah menguat dan dolar AS relatif stabil. Sementara itu, Benjamin Cowen menilai lonjakan harga minyak dalam sejarah sering kali menjadi penanda akhir siklus bisnis dan berisiko menekan aktivitas ekonomi.
Sebagai informasi, harga minyak dibuka tajam lebih tinggi dalam perdagangan Asia pada hari Senin karena pasar memperhitungkan premi risiko yang lebih besar dan gangguan pasokan yang meningkat setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan terhadap Iran.
Brent oil futures dibuka 13% lebih tinggi di US$ 82 per barel sebelum memangkas sebagian keuntungan.
Di pasar kripto, volatilitas meningkat tajam. Data CoinGlass menunjukkan likuidasi mencapai lebih dari US$ 651 juta dalam 24 jam terakhir. Bitcoin sempat turun sekitar US$ 62.800, menghapus nilai pasar sekitar US$ 58 miliar, sebelum rebound hampir US$ 63.900 dan kembali mendekati level US$ 67.000–US$ 68.000.
Crypto Patel memperingatkan bahwa pembukaan pasar tradisional pada Senin dapat memicu kejutan lanjutan. Ia menyarankan pelaku pasar untuk berhati-hati dan tidak terburu-buru membeli saat harga terkoreksi, mengingat risiko konflik yang masih berkembang.
Baca Juga
Serangan AS–Israel ke Iran Picu Aksi Jual, Bitcoin Berdarah-darah dan Kini di US$ 63.000
Menurutnya, dalam situasi saat ini Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset berisiko, bukan aset lindung nilai. Stablecoin dinilai lebih banyak digunakan sebagai sarana pelestarian modal selama ketidakpastian geopolitik.
Sementara pasar tradisional tutup selama akhir pekan, sebagian pelaku pasar beralih ke derivatif kripto untuk melakukan lindung nilai terhadap komoditas. Platform Hyperliquid mencatat lonjakan minat pada kontrak terkait Brent, sementara kontrak berjangka emas perpetual juga mencapai level tertinggi lokal.
Perkembangan geopolitik terbaru, termasuk laporan media pemerintah Iran terkait kondisi kepemimpinan nasional serta respons keras dari pihak Amerika Serikat, semakin mempertebal ketidakpastian global. Jika konflik terus berlanjut, tekanan terhadap harga minyak dan volatilitas di pasar kripto diperkirakan masih akan berlanjut pada awal pekan.
Sementara itu, melansir Coinmarketcapnews, Senin pukul 10.15 WIB kapitalisasi pasar kripto US$ 2,28 triliun atau turun 2,26%. Bitcoin turun 1,83% dalam sehari ke US$ 66.503, Ethereum melemah 3,40% ke US$ 1.966, BNB US$ 1,20% ke US$ 622,71 dan XRP terkoreksi 4,17% ke US$ 1,36.

