Sempat Viral ke Rp 8.000-an Per Dolar AS, Rupiah Babak Belur Imbas Perang Dagang AS
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah terbangun dari mimpi semalam setelah sempat viral menguat tajam ke level Rp 8.107 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Senin (3/2/2025) hari ini, Jisdor Bank Indonesia mencatat kurs rupiah babak belur melemah 141 poin (0,86%) ke level Rp 16.453 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, perang dagang Amerika Serikat (AS) memaksa mata uang Garuda babak belur dalam penutupan perdagangan hari ini. Trump mengenakan tarif 25% pada impor Kanada dan Meksiko, bersama dengan bea masuk 10% pada China. "Ketiga negara menolak tarif tersebut dan bersumpah untuk melakukan pembalasan," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (3/2/2025).
Baca Juga
BI 'Colek' Google Gegara Rupiah Mendadak Menguat ke Rp 8.170 per Dolar AS
Trump telah menyampaikan tarif tersebut minggu lalu, sebelum menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukannya pada Sabtu (1/2/2025).
Kanada merespons cepat dengan menerapkan tarif balasan sebesar 25% terhadap impor dari AS. Sementara itu, China mengkritik keras kebijakan tersebut, meski masih membuka jalan untuk berdialog dengan AS agar konflik ini tidak semakin memburuk.
Sementara Trump memukul China dengan tarif impor 10%, langkah yang menjadi pertanda buruk bagi ekonomi Negeri Tirai Bambu itu yang sangat bergantung pada ekspor. Adapun China telah memangkas paparan perdagangannya ke AS dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
BI 'Colek' Google Gegara Rupiah Mendadak Menguat ke Rp 8.170 per Dolar AS
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Keuangan dan Perdagangan China menyebut, pihaknya akan mengajukan gugatan terhadap kebijakan tarif Trump di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Selain itu, China memperingatkan akan mengambil "tindakan balasan" yang belum disebutkan secara terperinci, yang dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa (4/2/2025).
Data Jumat (31/2/2025) pekan lalu menyatakan, price consumer index (PCE) pengukur inflasi pilihan The Fed naik sesuai perkiraan pada Desember. Angka tersebut naik lebih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, dengan memperhitungkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi untuk waktu lebih lama.

