Dolar Merosot Imbas Perang Dagang, Bikin Rupiah Lanjut Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Merosotnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) membuat nilai tukar (kurs) rupiah lanjut menguat dalam penutupan perdagangan Rabu (5/3/2025). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah menguat 72 poin (0,43%) ke level Rp16.371 per dolar AS, melanjutkan tren positif yang sebelumnya berada pada posisi Rp16.443 per dolar AS.
Sementara itu berdasarkan perdagangan pasar spot, mata uang rupiah menguat signifikan terhadap dolar AS. Dilansir Yahoo Finance, mata uang rupiah menguat 130 poin (0,79%) ke level Rp16.310 per dolar AS. Sebelumnya mata uang rupiah juga menguat pada level Rp16.440 per dolar AS, dilansir Yahoo Finance.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, melemahnya dolar tidak lepas dari gejolak tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Seperti diketahui, tarif dagang oleh Trump terhadap China, Kanada, dan Meksiko mulai berlaku minggu ini, dengan presiden AS menyoroti rencana untuk tindakan tarif yang lebih ketat selama pidatonya di Kongres.
"Tarif Trump, yang akan berdampak pada ekonomi terbesar di kawasan tersebut," sebut Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu (5/3/2025).
Baca Juga
Rencana Trump untuk tarif timbal balik juga akan berdampak pada ekonomi berorientasi ekspor utama di Asia, terutama Korea Selatan, Australia, Taiwan, dan Singapura. Namun, pasar sedikit lega setelah Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan bahwa Trump mungkin terbuka untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan Kanada dan Meksiko.
Di sisi lain, pemerintah China mengumumkan serangkaian tindakan balasan yang menargetkan impor pertanian AS dan sektor lainnya pada hari Selasa, setelah tarif 20% Trump terhadap Tiongkok mulai berlaku.
"Fokus juga tertuju pada lebih banyak langkah stimulus dari China saat Kongres Rakyat Nasional dimulai. Pemerintah diharapkan menguraikan lebih banyak stimulus untuk mendukung ekonomi China, terutama dalam menghadapi hambatan terkait perdagangan," lanjut Ibrahim.
China menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5% untuk tahun 2025, mempertahankan target tersebut untuk tahun ketiga berturut-turut. Beijing juga menguraikan peningkatan belanja fiskal dan menjanjikan langkah-langkah yang ditargetkan untuk meningkatkan konsumsi swasta dalam beberapa bulan mendatang.

