Rupiah Bangkit ke Rp 16.387 Per Dolar AS karena Sentimen Perang Dagang AS-China
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah balik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (30/7/2025) atau tengah pekan ini.
Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI) kurs rupiah menguat 12 poin (0,07%) ke level Rp 16.387 per dolar AS, setelah pada Selasa (29/7/2025) melemah di posisi Rp 16.399 per dolar AS.
Sementara pada perdagangan spot, Bloomberg merilis kurs rupiah terapresiasi tipis 4 poin ke level Rp 16.405 per dolar AS. Bloomberg juga merilis indeks dolar AS (DXY) melemah 0,06% ke level 98,8.
Baca Juga
Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.301 per Dolar AS Jelang Akhir Pekan
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti perkembangan negosiasi pemberlakuan tarif resiprokal oleh Pemerintah AS sebagai sentimen yang mempengaruhi pergerakan indeks dolar (DXY).
"Para pejabat AS dan China sepakat memperpanjang gencatan senjata tarif 90 hari mereka pada Selasa (29/7/2025), setelah 2 hari perundingan yang digambarkan kedua belah pihak sebagai perundingan konstruktif di Stockholm, Swedia yang bertujuan meredakan perang dagang yang semakin memanas antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia," kata dia dalam keterangannya, Rabu (30/7/2025).
Tidak ada terobosan besar yang diumumkan. Para pejabat AS mengatakan bahwa keputusan memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang berakhir 12 Agustus atau membiarkan tarif melonjak kembali ke tiga digit berada di tangan Presiden Donald Trump.
Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent meredam ekspektasi bahwa Trump akan menolak perpanjangan tersebut. "Pertemuan-pertemuan itu sangat konstruktif," kata Bessent kepada para wartawan setelah pertemuan berakhir.
"Hanya saja kami belum memberikan tanda tangan."
Kemudian, keyakinan yang semakin meningkat bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan dan tetap tidak berkomitmen pelonggaran lebih lanjut, meskipun ada tekanan dari Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga.
Baca Juga
Dolar AS Tergelincir Rabu Pagi, Kurs Rupiah Dapat Angin Segar
"Tekanan dari Trump dapat menimbulkan perselisihan di antara para pembuat kebijakan The Fed. Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman kemungkinan akan memberikan suara menentang keputusan Powell untuk mempertahankan suku bunga acuan," ungkap Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan, beberapa tanda meredanya kondisi di pasar tenaga kerja, ditambah dengan kejelasan yang lebih lanjut tentang tarif Trump, juga dapat membuat The Fed lebih terbuka untuk akhirnya memangkas suku bunga acuan.

