Bitcoin Naik Terbatas, Pasar WaspadaI Risiko Makro dan Tekanan Derivatif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) menguat 1,5% ke level US$ 88.539 pada Selasa (27/1/2026) waktu Asia setelah sempat menguji area US$ 86.000 pada Minggu (25/1/2026). Penguatan terbatas ini terjadi di tengah kehati-hatian pelaku pasar yang mencermati risiko penutupan pemerintahan federal Amerika Serikat serta sejumlah agenda berisiko tinggi pekan ini, termasuk laporan keuangan raksasa teknologi global dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (28/1/2026) esok.
Meski harga emas menembus rekor tertinggi, pelaku pasar Bitcoin belum menunjukkan optimisme serupa. Data pasar derivatif mencerminkan skeptisisme terhadap kelanjutan reli, ditandai dengan lemahnya permintaan posisi bullish berleverage dan meningkatnya ekspektasi koreksi di pasar opsi.
Melansir Cointelegraph, Selasa (27/1/2026) disebutkan bahwa premi kontrak berjangka Bitcoin tahunan (basis rate) tercatat di kisaran 5% pada Senin. Level tersebut dinilai masih terlalu rendah untuk mencerminkan sentimen bullish yang kuat. Dalam kondisi optimistis, indikator ini umumnya berada di atas 10%, sementara pada fase bearish dapat turun hingga negatif. Selama dua pekan terakhir, sentimen pasar dinilai netral hingga cenderung negatif.
Indikasi kehati-hatian juga tercermin dari pasar opsi. Delta skew opsi Bitcoin mencapai 12%, menunjukkan opsi jual (put) diperdagangkan dengan premi lebih tinggi dibanding opsi beli (call). Dalam kondisi pasar normal, indikator ini biasanya bergerak di rentang -6% hingga +6%. Level serupa terakhir tercatat pada 1 Desember 2025, ketika Bitcoin jatuh tajam dari US$ 91.500 ke US$ 83.900 hanya dalam hitungan jam.
Baca Juga
Bitcoin Lesu Jelang FOMC, Investor Kembali ke ‘Safe Haven’ Tradisional
Sementara Bitcoin bergerak terbatas, emas justru melonjak tajam dan mencetak rekor baru di level US$ 5.100 per ons. Kenaikan ini memicu spekulasi bahwa pasar tengah memasuki fase “perdagangan penurunan nilai mata uang”, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas dolar AS. Namun, sejumlah analis menilai sentimen tersebut belum secara langsung diterjemahkan menjadi katalis positif bagi Bitcoin.
Kewaspadaan investor juga meningkat setelah Federal Reserve Bank of New York memberi sinyal potensi intervensi untuk menopang yen Jepang, langkah yang terakhir kali dilakukan pada 1998. Dalam setahun terakhir, sejumlah mata uang utama menguat terhadap dolar AS, meningkatkan biaya impor dan tekanan inflasi di AS. Jika intervensi benar-benar dilakukan, pasar dapat menafsirkannya sebagai sinyal ketegangan serius di sistem keuangan global.
Indeks Dolar AS tercatat turun di bawah level 97 untuk pertama kalinya dalam empat bulan, sementara investor mulai mencari lindung nilai pada mata uang fiat lain. Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor lima tahun masih berada di kisaran 3,8%, lebih tinggi dibandingkan Eropa dan Jepang, namun belum cukup meredam kekhawatiran inflasi.
Pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS ke depan, terutama menjelang berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell pada April mendatang. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar pengganti Powell berfokus pada penurunan suku bunga acuan. Meski kebijakan moneter yang lebih longgar cenderung mendukung pasar saham, dampaknya terhadap minat investasi Bitcoin dinilai tidak selalu langsung.
Baca Juga
Ke depan, pergerakan Bitcoin juga akan dipengaruhi oleh musim laporan keuangan perusahaan teknologi besar. Jika kinerja emiten melampaui ekspektasi, investor diperkirakan akan tetap bertahan di aset berisiko konvensional, sehingga minat terhadap aset alternatif seperti Bitcoin bisa tertahan.
Dengan kondisi tersebut, peluang Bitcoin untuk kembali menembus level US$ 93.000 dinilai masih bergantung pada pulihnya kepercayaan pelaku pasar profesional. Proses pemulihan ini diperkirakan membutuhkan waktu, seiring dominannya sentimen makroekonomi dan faktor fundamental global dalam jangka pendek.
Sebelumnya, Bitcoin berisiko mencatat penurunan bulanan keempat berturut-turut, sebuah tren langka yang terakhir kali terjadi pada periode 2018–2019, ketika pasar kripto mengalami enam bulan penurunan beruntun. Hingga sepekan menjelang akhir Januari, harga bitcoin masih bergerak melemah di kisaran US$ 87.000, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi penutupan bulan sebelumnya.
BTC telah membukukan penutupan bulanan negatif pada Oktober, November, dan Desember, menandai koreksi tajam setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Oktober. Dari puncak ke titik terendah, harga bitcoin tercatat telah turun sekitar 36% dalam periode tersebut.
Melansir Coindesk, Selasa (27/1/2026) kondisi ini tergolong tidak lazim. Bahkan pada pasar bearish 2022, ketika bitcoin anjlok dari kisaran US$69.000 hingga ke level terendah sekitar US$ 15.000 akibat pengetatan kebijakan moneter global dan sejumlah kegagalan besar di industri kripto, Bitcoin tidak pernah mencatat lebih dari tiga bulan penurunan berturut-turut. Perbandingan historis ini menegaskan bahwa tren pelemahan saat ini berpotensi menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir apabila Januari kembali ditutup di zona merah.
Meski demikian, sinyal jangka pendek dari pasar derivatif menunjukkan adanya optimisme terbatas. Data Deribit mengindikasikan minat kenaikan harga yang moderat menjelang akhir bulan.
Bitcoin akan menghadapi kadaluarsa kontrak opsi pada 30 Januari 2026 dengan total open interest mencapai sekitar US$ 8,5 miliar di Deribit. Opsi call di level US$ 100.000 tercatat memiliki nilai nominal terbesar, mendekati US$ 900 juta, mencerminkan posisi sejumlah pelaku pasar yang berspekulasi pada potensi rebound menuju level enam digit.
Sementara itu, level max pain untuk kadaluarsa opsi tersebut berada di sekitar US$ 90.000. Max pain merujuk pada harga di mana sebagian besar kontrak opsi akan berakhir tanpa nilai, yang secara teori dapat menciptakan tekanan harga menuju level tersebut seiring mendekatnya tanggal kadaluarsa.

