Transaksi Berjangka Komoditi 2025 Tumbuh 49,8%, Bappebti Optimistis Industri Berjangka Kian Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya mengungkapkan bahwa kinerja perdagangan berjangka komoditi (PBK) menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Selama periode Januari hingga November 2025, nilai transaksi PBK secara keseluruhan tercatat sebesar Rp42.867 triliun atau tumbuh 49,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume transaksi mencapai 14,56 juta lot atau meningkat 12%, dengan kontrak berjangka berbasis komoditi berkontribusi sebesar 89,48% dari total nilai transaksi.
Pencapaian tersebut disampaikan Tirta saat pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Pada kesempatan tersebut, tiga bursa berjangka komoditi dibuka secara serentak, yaitu Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), serta Indo Bursa Karisma Berjangka (IKB).
Menurut Tirta, pembukaan perdagangan tahun 2026 menjadi simbol semangat baru dan momentum penting untuk mengakselerasi pertumbuhan industri PBK di Indonesia. “Pada 2026 ini, Bappebti beserta seluruh pemangku kepentingan PBK memiliki semangat baru yang mampu memantik perkembangan industri PBK ke arah yang lebih baik lagi di tahun ini,” ungkapnya.
Baca Juga
Kemendag Dorong Komoditas Unggulan Masuk Bursa Berjangka demi Perkuat Harga Acuan
Tirta menjelaskan, selama periode Januari hingga 15 Desember 2025, sejumlah instrumen PBK mencatatkan kinerja positif. Perdagangan fisik timah murni batangan ekspor membukukan nilai transaksi Rp26,98 triliun dengan volume 9.830 lot. Sementara itu, pasar fisik emas digital mencatat nilai transaksi sebesar Rp107,43 triliun dengan volume mencapai 55,58 juta gram.
Kinerja positif juga terlihat pada perdagangan kontrak berjangka crude palm oil yang mencatat nilai transaksi sebesar Rp2,69 triliun dengan volume 30.341 lot.
Kontrak syariah murabahah mencatat nilai transaksi Rp693,47 miliar dengan volume setara 66,1 juta liter, sedangkan kontrak berjangka Brent crude oil mencatat nilai transaksi Rp3,14 miliar dengan volume 30 lot. Selain itu, perdagangan kontrak Renewable Energy Certificate (REC) pada periode yang sama membukukan nilai transaksi Rp1,84 miliar dengan volume 44.495 lot.
Untuk mencapai kinerja tersebut, Tirta menuturkan bahwa Bappebti telah melakukan berbagai langkah dan terobosan strategis sepanjang 2025. Salah satu upaya utama yang terus diperkuat adalah literasi PBK kepada masyarakat luas. “Selain untuk mendorong peningkatan transaksi, langkah ini juga sebagai upaya melindungi masyarakat dari praktik perdagangan ilegal yang mengatasnamakan PBK,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Bappebti juga terus meningkatkan penguatan regulasi dan pengawasan, serta mengembangkan mekanisme perdagangan dan produk agar industri PBK semakin sehat dan berdaya saing. Ke depan, Tirta mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menyatukan langkah dan memperkuat kolaborasi guna mencapai target industri PBK pada 2026. “Segenap pemangku kepentingan perlu bersama-sama berupaya lebih keras dan lebih giat lagi pada 2026 ini untuk terus meningkatkan kinerja dan citra PBK di Indonesia,” tutup Tirta.
Baca Juga
Pasar Global Longgar, Valbury Ungkap Tren Industri Perdagangan Berjangka dan Komoditas 2026
Pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026 dihadiri oleh 112 peserta yang terdiri atas pelaku usaha dan perwakilan instansi terkait. Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta Yazid Kanca Surya menyatakan bahwa pembukaan perdagangan tahun 2026 merupakan momentum strategis untuk memperkuat peran bursa sebagai penggerak perdagangan komoditas yang transparan, berintegritas, dan berdaya saing. Sepanjang 2026, BBJ berkomitmen mendorong peningkatan likuiditas, pengembangan produk, serta pemanfaatan teknologi guna mendukung pertumbuhan industri PBK.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia Nursalam menyampaikan bahwa sepanjang 2025 pihaknya telah menginisiasi perdagangan REC sebagai bagian dari komitmen terhadap inovasi berkelanjutan. Memasuki 2026, BKDI mengusung tema “Year of Discovery” yang mencerminkan upaya melanjutkan capaian sebelumnya sekaligus memperluas cakupan produk komoditas yang berdampak bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Direktur Utama PT Indo Bursa Karisma Berjangka Agung Rihayanto menegaskan bahwa industri PBK akan turut mendukung program B40 dan B50 Biosolar. Melalui pemanfaatan mekanisme lindung nilai CPO, pelaku industri hilir diharapkan semakin tertarik melakukan transaksi kontrak berjangka CPO di bursa. Ia juga menekankan pentingnya penindakan tegas terhadap praktik yang menyalahi aturan serta peningkatan literasi PBK secara rutin agar industri PBK semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

