IABC Indonesia Soroti Masa Depan Kepercayaan Publik di Era AI dan Komunikasi Berbasis Kemanusiaan
JAKARTA, investortrust.id – International Association of Business Communicators (IABC) Indonesia menegaskan bahwa masa depan kepercayaan publik menjadi isu sentral di era kecerdasan buatan (AI). Pada IABC Indonesia Conference and Awards 2025 pada 8 Desember 2025, organisasi ini menyoroti pentingnya komunikasi strategis yang berakar pada kepercayaan, kemanusiaan, dan dampak digital di tengah ancaman deepfakes dan misinformasi.
Presiden IABC Indonesia sekaligus Founder & CEO VMCS Communications and Social Impact Elvera N. Makki menyatakan bahwa kepercayaan publik kini menjadi mata uang utama kepemimpinan modern. Menurutnya, teknologi mampu mempercepat penyebaran pesan, namun hanya kemanusiaan yang dapat memperdalam makna. “Di era AI, komunikasi strategis tidak cukup hanya akurat, namun harus empatik, etis, dan berpihak pada hak asasi manusia,” ujarnya di Jakarta, Selasa (8/12/2025).
Survei Boston University Communication Research Center 2025 menunjukkan bahwa empat dari lima orang mendukung perlindungan ketat terhadap deepfakes dan meminta platform media sosial lebih aktif memoderasi misinformasi. Temuan ini menegaskan bahwa isu kepercayaan publik di era AI merupakan agenda strategis global.
Baca Juga
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset (Dikti Saintek) RI Stella Christie dalam keynote speech menyoroti penyebaran hoaks yang meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir akibat teknologi AI. Ia menjelaskan empat faktor utama yang membuat publik mudah percaya hoaks: political partisanship, cognitive reflection, prior knowledge, dan heuristic. Ia juga menekankan perlunya pendekatan proaktif seperti prebunking, accuracy nudge, wisdom of crowd, dan edukasi jangka panjang.
Adapun, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, menggarisbawahi tantangan framing informasi di ruang digital. Menurutnya, informasi dapat berubah makna ketika dibingkai secara berbeda demi engagement di media sosial, sehingga organisasi, brand, hingga UMKM harus lebih waspada sebelum merespons dinamika tersebut.
Dari sektor kesehatan, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan aset paling berharga namun paling rapuh. Ia menekankan pentingnya komunikasi kesehatan yang transparan, mudah dipahami, dan menyentuh emosi masyarakat, terutama bagi mereka yang hidup di daerah terpencil.
Baca Juga
Wamenkomdigi Desak TikTok cs Hadirkan Fitur Deteksi Konten AI untuk Cegah Hoaks dan Deepfake
Dukungan terhadap komunikasi strategis berbasis kemanusiaan juga datang dari sektor korporasi. Bank Mandiri menilai inovasi digital dan penerapan prinsip ESG mampu memperkuat stabilitas ekonomi nasional dan memperluas akses layanan finansial. Senior Vice President ESG Bank Mandiri, Monica Yoanita Octavia, menyebut bahwa membangun kepercayaan di era digital dimulai dari menempatkan kemanusiaan di inti inovasi.
Komunikasi Bertanggungjawab
Telkomsel melalui VP Corporate Communication & Social Responsibility Abdullah Fahmi menekankan pentingnya komunikasi yang bertanggung jawab untuk memastikan transformasi digital berdampak positif. Sementara Danone Indonesia melalui Arif Mujahidin menyebut empati sebagai inti dari komunikasi yang mampu memperkuat keberlanjutan bisnis.
Baca Juga
Setahun Prabowo, IPO Sebut Ekonomi Nasional Menguat dan Kepercayaan Publik Meningkat
Menutup konferensi, Elvera menegaskan bahwa komunikator modern perlu menjadi jembatan antara data dan empati, teknologi dan etika, serta inovasi dan tanggung jawab sosial. “AI mungkin mempercepat dunia, tetapi hanya humanity yang dapat menstabilkannya,” tegasnya.
Dengan tantangan digital yang semakin kompleks, IABC Indonesia menegaskan komitmennya menjadi rumah bagi para profesional komunikasi yang ingin memimpin dengan etika, empati, dan dampak nyata bagi masyarakat.
