Prospek HMSP Cerah 2026, Analis: Pemulihan Volume & Cukai Stabil Jadi Katalis
Poin Penting
|
JAKARTA, investotrust.id - Prospek PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) ke depan mulai menunjukkan tanda pemulihan seiring strategi perusahaan yang semakin agresif dalam mengembangkan produk rokok bebas asap.
Diversifikasi ke kategori heated tobacco ini penting karena menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat secara global, margin lebih tinggi, dan tidak terlalu bergantung pada dinamika volume Sigaret Kretek Mesin/Sigaret Kretek Tangan.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan jika eksekusinya konsisten melalui ekspansi distribusi, edukasi pasar, serta inovasi produk, maka strategi ini berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru bagi perseroan, terutama di tengah regulasi cukai rokok konvensional yang cenderung ketat dalam jangka panjang.
Prospek HMSP juga terbantu oleh komitmen pemerintah untuk memberantas rokok ilegal. Selama beberapa tahun, peredaran rokok ilegal menjadi faktor terbesar yang menekan volume industri karena harga produk ilegal jauh lebih murah akibat tidak membayar cukai.
"Jika pengawasan semakin ketat, maka permintaan akan kembali mengalir ke pemain legal seperti HMSP. Hal ini akan mendukung stabilitas volume dan memperkuat utilisasi produksi. Di tengah volume industri yang diproyeksikan tumbuh 2-4% pada 2026, langkah pemerintah ini menjadi katalis penting yang akan meningkatkan pangsa pasar pemain tier 1," kata Hendra kepada investortrust.id Rabu, (3/12/2025).
Baca Juga
Selain itu, outlook HMSP ikut terdorong oleh rencana pemerintah yang tidak menaikkan cukai pada 2026. Setelah beberapa tahun dibayangi lonjakan cukai dan harga jual eceran (HJE), kebijakan stabilisasi cukai akan memberi ruang bernapas bagi industri. Beban biaya menjadi lebih terkendali, sehingga HMSP dapat memperbaiki margin tanpa harus menaikkan harga secara agresif.
"Dengan gross margin yang sudah naik menjadi 18,4% pada kuartal III-2025, stabilnya cukai memberi peluang peningkatan profitabilitas yang lebih besar, terutama jika penurunan volume dapat dijaga di bawah 5%," terang dia.
Secara umum, industri rokok 2026 diperkirakan masuk fase pemulihan siklis setelah periode tekanan panjang. Pemulihan daya beli akibat kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar, stabilisasi cukai dan HJE, serta upaya pemberantasan rokok ilegal menjadi fondasi kuat bagi kenaikan volume industri.
"Meski analis masih memberi rating Neutral, ruang perbaikan laba dinilai besar karena kinerja pemain besar seperti HMSP dan GGRM saat ini masih berada di bawah rata-rata 10 tahun terakhir menandakan ruang rebound yang menarik ketika sentimen mulai pulih," tuturnya.
Secara kinerja, perusahaan menunjukkan tanda stabilisasi meski laba kuartal III-2025 masih turun 13,7% menjadi Rp 4,51 triliun. Penurunan ini sebenarnya mencerminkan kondisi industri yang masih tertekan, sehingga bila 2026 memasuki fase pemulihan, HMSP menjadi salah satu yang paling diuntungkan.
Dengan struktur biaya lebih rapi, volume industri yang moderat naik, serta stabilnya cukai, potensi pemulihan laba HMSP pada 2026 cukup besar. Secara valuasi, HMSP juga relatif menarik dengan target harga konsensus Rp 1.150, yang mencerminkan PER 16,3x-masih di bawah rata-rata historis industri.

