Prospek Cerah, Analis Sebut Saham Emiten Data Center Menarik Diakumulasi
JAKARTA, investortrust.id - Serangan ransomware ke Pusat Dara Nasional Sementara (PDNS) 2 telah menjadi perhatian masyarakat. Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kasus ransomware ini perlu disikapi dengan serius.
Dia pun mengingatkan pentingnya penggunaan encryption dengan security berlapis pada data center, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Walaupun demikian, Nafan mengatakan bahwa saham emiten data center masih relatively prospective.
“Emiten data center kalau secara baris besar biasanya bisa menerapkan kerja sama business to business. Misalnya dengan berbagai perusahaan yang memang sudah berkomitmen dalam menerapkan digitalisasi layanan secara masif ya,” ujar Nafan kepada investortrust.id, Kamis (3/7/2024).
Baca Juga
Prospek Saham TLKM, ISAT, dan EXCL Tetap Cerah, Meski Starlink Merangsek Masuk
Lebih lanjut kata dia, banyak sekali perusahaan-perusahaan barang dan jasa yang menerapkan hal tersebut, jadi kata dia kebutuhan data center memang relatif tinggi dan prospektif.
Lebih lanjut, ia tetap mengimbau para investor untuk selektif pada pemain data center yang sahamnya likuid, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). “Cermati saham-saham yang likuid, menurut saya TLKM paling likuid dilihat dari market capnya yang besar, serta perusahaan BUMN,” tuturnya.
Sebagai catatan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berhasil membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 37,4 triliun pada akhir kuartal-I 2024 atau tumbuh 3,7% yoy. Capaian ini didorong oleh pertumbuhan kinerja bisnis Data, Internet & IT Services sebesar 11,3% yoy menjadi Rp 22,1 triliun.
Baca Juga
Telkom Hadirkan Platform Pendidikan di SMA Negeri 40 Jakarta, Ini Manfaatnya
Sementara itu, EBITDA perseroan tercatat positif sebesar Rp 19,4 triliun atau tumbuh 2,2% yoy dengan margin EBITDA yang stabil di kisaran 51,9%. Selain itu, TLKM juga mencatatkan laba operasi Rp 6,3 triliun atau tumbuh positif 3,1% dengan margin sebesar 16,9%. Hal ini menunjukkan kinerja perseroan yang masih baik di tengah kondisi industri yang menantang.
Sementara itu, di tiga bulan pertama 2024, total belanja modal atau capital expenditure (Capex) perseroan mencapai Rp 5,1 triliun atau 13,6% dari total pendapatan. Capex tersebut digunakan untuk pembiayaan beberapa inisiatif strategis TelkomGroup meliputi pembangunan BTS 4G dan 5G, pembuatan Satelit Merah Putih 2 yang saat ini berada di orbit 113 BT, penggelaran sistem komunikasi kabel laut, serta pembangunan Hyperscale Data Center di Cikarang dan Batam.
“Alhamdulillah kinerja perseroan masih berjalan cukup baik, meski kondisi industri penuh tantangan dan gejolak geopolitik global yang memberikan pengaruh besar terhadap kondisi makro ekonomi, termasuk kinerja saham Telkom,” kata Direktur Utama Telkom, Ririek Adriansyah dikutip Kamis (4/7/2024).
Meski demikian kata Ririek, Telkom optimistis apa yang tengah dilakukan saat ini akan memberikan output yang positif untuk keberlanjutan perusahaan di waktu mendatang.
‘’Kami akan terus menjalankan bisnis dengan berfokus pada penguatan digital connectivity, digital platform, dan digital service,” paparnya.
Sebagai catatan, saham TLKM ditutup merosot 70 poin (2,31%) ke level 2.960 dengan jumlah saham yang ditransaksikan mencapai 93,10 juta lembar saham dengan frekuensi sebanyak 20.685. Sementara nilai transaksi sebesar Rp 278,28 miliar dan kapitalisasi pasar senilai Rp 293,22 triliun.

