Saham Emiten Data Center Kurang Likuid, Analis Rekomendasikan Netral Kecuali...
JAKARTA, investortrust.id - Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Soekarno Alatas mengatakan, serangan hacker ransomware pada Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 berpotensi mendatangkan sejumlah sentiment bagi pasar modal.
Menurutnya, dampak negatif dari kasus tersebut dapat membuat kekhawatiran keamanan sehingga investor menjadi ragu untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia, serta menurunkan kepercayaan publik yang dapat berpotensi pada permintaan dan pendapatan emiten data center.
Baca Juga
Saham TLKM, ASII, AMRT dan ANTM Layak Koleksi, Cek Target Harganya
“Selain itu, regulasi nantinya akan menjadi lebih ketat sehingga dapat meningkatkan biaya operasional emiten data center,” ujar Soekarno pada investortrust.id, Kamis (4/7/2024).
Sebaliknya sisi positifnya dari kasus tersebut adalah akan mendorong permintaan layanan keamanan siber yang lebih kuat akan meningkat dan berpotensi menguntungkan emiten yang menawarkan jasa tersebut.
Soekarno mencermati bahwa prospek emiten data center di Indonesia masih cukup baik dalam jangka panjang. Hal ini didorong dengan pertumbuhan ekonomi digital dan meningkatnya adopsi cloud computing akan terus mendorong permintaan layanan data center.
Baca Juga
Bank Mandiri Kuasai 30% Pangsa Pasar Pembiayaan Hijau di Indonesia
“Namun, investor perlu mempertimbangkan dengan cermat risiko yang terkait dengan keamanan siber dan regulasi yang lebih ketat,” tegasnya.
Oleh sebab itu, Soekarno menilai rekomendasi saham dari emiten data center saat ini lebih ke netral atau wait and see mengingat likuiditas di pasar terbilang kecil, kecuali PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
“Khusus TLKM bisa buy atau hold. Tapi tetap perhatikan faktor lain yang bisa mempengaruhi secara jangka pendek, karena pergerakan TLKM belum menunjukkan ada indikasi sinyal buy yang kuat secara teknikal,” pungkasnya.

