Musim Dingin Mendekat, AADI & ADRO Jadi Saham Batu Bara Pilihan Utama
Poin Penting
| ● | AADI & ADRO direkomendasikan beli, target Rp 9.850 dan Rp 2.630. |
| ● | Harga batu bara pulih, didorong restocking dan penurunan produksi. |
| ● | Permintaan China–India melemah, stok tinggi batasi kenaikan harga. |
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas kembali mempertahankan rekomendasi netral sektor batubara dengan lima saham direkomendasikan beli. Adapun saham pilihan sektor ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini, menyebutkan bahwa , potensi kenaikan harga saham emiten batu bara dalam jangka pendek tetap terbuka menjelang musim dingin, sehingga saham AADI dan ADRO menjadi pilihan utama yang direkomendasikan beli dengan target harga Rp 9.850 dan Rp 2.630. Urutan preferensi sektor adalah AADI > ADRO > UNTR > ITMG > PTBA.
Riset ini menyebutkan bahwa dana investor domestik tercatat mulai menunjukkan kenaikan pada saham emiten batu bara sejak Agustus 2025, sementara minat investor asing masih terbatas.
Baca Juga
Bukan Hanya Batu Bara, Pemerintah Juga Akan Kurangi Produksi Nikel Tahun Depan
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, permintaan batu bara global diprediksi tetap melemah hingga akhir 2025, namun demikian terbuka momentum penguatan harga menjelang musim dingin.
“Kondisi pasar tetap tertekan oleh melemahnya impor dari China dan India, serta tingginya level persediaan, sementara sisi pasokan Indonesia mulai menunjukkan pengetatan,” tulisnya dalam riset tersebut.
Source:
Meski demikian, terang riset tersebut, harga batu bara Indonesia mulai memasuki pulih sejak akhir kuartal II-2025. Kenaikan paling kuat terjadi pada produk kalori menengah-rendah (ICI3 dan ICI4) dengan kenaikan masing-masing 17% dan 20% sejak posisi terendah Juni 2025. Produk kalori menengah dan tinggi juga telah menguat 4–16%.
Pemulihan harga ini dipicu aktivitas restocking di pelabuhan China yang mengikuti pola musiman. Namun, tingkat persediaan yang masih jauh di atas rata-rata historis berpotensi membatasi kenaikan harga hingga 2026.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Bea Keluar Batu Bara dan Emas pada 2026, Begini Dampaknya
Pemulihan harga batu bara juga dipengaruhi atas penurunan produksi. Menrutu data Kementerian ESDM (MEMR) hingga Juli 2025, produksi batu bara Indonesia mencapai 509 juta ton dalam 8 bulan atau turun 8% yoy atau baru memenuhi 70% kuota 2025. “Pelemahan produksi akibat curah hujan tinggi pada semester I-2025 yang mengganggu output di berbagai wilayah tambang. Produksi diperkirakan membaik mulai September, seiring normalisasi cuaca,” tulisnya.
Diprediksi produksi batu bara nasional mencapai 577 juta ton hingga kuartal III-2025 atau turun 8% yoy. Ekspor juga diprediksi turun pada tingkat yang sama. “Rencana pemerintah membatasi kenaikan produksi pada 2026 dinilai positif, karena dapat menahan potensi koreksi harga,” tulisnya.
Terkait permintaan ekspor batu bara, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, impor batu bara China baru mencapai 388 juta ton hingga September 2025 atau turun 11% akibat persediaan tinggi dan kenaikan produksi domestik. Namun, produksi China mulai melambat sejak Juli–Oktober 2025 (-1,5% yoy) setelah adanya kebijakan pembatasan produksi demi keselamatan tambang. India juga mencatat pelemahan permintaan yang ditunjukkan penurunan impor batu bara sebanyak 7,5% hingga Oktober 2025, walau mulai stabil dalam beberapa bulan terakhir.

