Bagikan

Divestasi Kestrel hingga Kenaikan Harga Batu Bara, Intip Target Harga Saham Adaro Andalan (AADI) Ini

Poin Penting

Saham AADI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 13.750 didukung dua sentimen positif.
Produksi AADI diproyeksikan pulih mulai kuartal II-2026 seiring potensi cuaca kering akibat El Nino.
Divestasi Kestrel dan akumulasi asing Rp1,9 triliun jadi katalis positif saham AADI.

JAKARTA, investortrust.id Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) tetap dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 13.750 oleh MNC Sekuritas, meski kinerja keuangan kuartal I-2026 mengalami pelemahan.

AADI mencatat laba bersih sebesar US$ 143 juta pada kuartal I-2026, turun 17% secara kuartalan (QoQ) dan melemah 27% secara tahunan (YoY). Penurunan ini sejalan dengan pelemahan pendapatan menjadi US$ 1 miliar, turun 20% QoQ dan melemah 10% YoY. Penurunan pendapatan terutama disebabkan volume penjualan yang turun menjadi 15,1 juta ton atau turun 22% QoQ dan 8% YoY.

Baca Juga

AADI hingga EMAS Melonjak, Saham Boy Thohir Kuasai Top Gainer BEI Sepanjang Ytd

Analis MNC Sekuritas Raka Junico mengatakan, penurunan produksi tersebutdipengaruhi faktor cuaca dibandingkan hambatan struktural terhadap kapasitas produksi perusahaan. Secara historis, kuartal pertama memang menjadi periode musiman terlemah bagi produksi AADI sebelum kembali pulih pada kuartal berikutnya.

Memasuki kuartal II-2026, produksi AADI diperkirakan mulai pulih seiring potensi masuknya siklus El Nino yang membawa kondisi cuaca lebih kering dan mendukung aktivitas pertambangan.

“Kami memperkirakan produksi AADI mencapai 68,6 juta ton atau relatif stabil dibanding tahun sebelumnya. Sementara volume penjualan diperkirakan turun menjadi 71,8 juta ton dari 75,1 juta ton pada 2025,” tulis riset tersebut.

Baca Juga

Adaro Andalan (AADI) Siapkan Buyback Saham hingga Rp 5 Triliun, Ini Tujuannya

Namun demikian penurunan volume penjualan diperkirakan akan tertopang kenaikan ASP emiten yang teraffiliasi dengan Garibaldi Thohir ini dengan perkiraan 17% YoY menjadi US$ 72,9 per ton. Sebagai gambaran, indeks batu bara ICI 3 rata-rata mencapai US$ 77,2 per ton pada April 2026 atau naik 19% YoY dibandingkan US$ 65,1 per ton pada April 2025.

Sentimen positif saham AADI juga datang dari rencana divestasi tambang batu bara metalurgi Kestrel. Perseroan berpotensi memperoleh dana hingga US$2,4 miliar dari transaksi tersebut.

Nilai transaksi terdiri atas pembayaran tunai di muka sebesar US$ 1,85 miliar saat penyelesaian transaksi serta tambahan pembayaran kontinjensi hingga US$ 550 juta yang dibayarkan bertahap selama lima tahun setelah transaksi selesai.

Baca Juga

Adaro Andalan (AADI) Raup Laba US$ 849,18 Juta di 2025

“Dana divestasi dapat meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan, termasuk untuk potensi peningkatan dividen, program pembelian kembali saham (buyback), maupun reinvestasi bisnis AADI,” tulisnya.

Di pasar saham, investor asing telah mengakumulasi bersih saham AADI sebesar Rp 1,9 triliun sepanjang year to date (ytd). Aksi beli tersebut dinilai mencerminkan optimisme investor terhadap prospek jangka panjang AADI yang ditopang profil biaya rendah, prospek harga batu bara yang membaik, serta potensi unlocking value dari divestasi Kestrel.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024