Pendapatan Merdeka Copper Gold (MDKA) Turun 22% pada Kuartal III-2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat pendapatan belum diaudit sebesar US$ 1,29 miliar per September 2025, turun 22% secara tahunan (yoy). Penurunan dipicu melemahnya kontribusi segmen nikel senilai US$ 445 juta dan pendapatan tembaga yang berkurang US$ 38 juta.
Meski demikian, penurunan tersebut sebagian tertahan oleh peningkatan kontribusi segmen emas sebesar US$ 87 juta serta pendapatan lain senilai US$ 27 juta.
Baca Juga
Tumbuh 158%, Transaksi QRIS Tembus 10,33 Miliar per September 2025
Direktur Utama Merdeka Copper Gold (MDKA) Albert Saputro menyampaikan perseroan tetap mencatat kemajuan penting pada kinerja operasional dan proyek-proyek strategis. “Proyek Tembaga Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani merupakan peluang pertumbuhan berskala besar yang akan membawa kemajuan berarti bagi perseroan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (11/11/2025).
MDKA belum menyampaikan capaian laba pada periode ini, karena laporan keuangan konsolidasi sembilan bulan masih menunggu proses audit. Sekretaris Perusahaan Merdeka Copper Gold, Jessica J., menjelaskan audit diperlukan guna mendukung evaluasi kinerja keuangan dan pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Selama Januari–September 2025, operasi penambangan emas dan tembaga tercatat stabil, sementara segmen nikel melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menunjukkan penguatan kinerja dan perkembangan proyek.
Baca Juga
Perdagangan Emas Digital di ICDX Diproyeksi Tembus 25 Juta Gram di Tahun 2025
Produksi Tambang Emas Tujuh Bukit tercatat stabil sebesar 25.338 ounces dengan harga jual rata-rata (ASP) US$ 3.275 per ounces, mencerminkan peningkatan margin kas 24% yoy. Total penjualan mencapai 29.629 ounces dengan pendapatan sebelum audit sekitar US$ 104 juta.
Pada segmen tembaga, Tambang Wetar memproduksi 3.228 ton dengan biaya tunai US$ 2,75 per pon, didukung optimalisasi penumpukan bijih dan operasi pelindian SX-EW. Wetar diperkirakan tetap berproduksi hingga akhir 2027, dengan kajian teknologi flotasi dan pelindian tangki yang masih berlangsung.
Sementara itu, produksi bijih nikel melalui Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat 89% yoy, dengan output saprolit mencapai 2 juta ton basah dan limonit 5,6 juta ton basah. Margin nickel pig iron (NPI) naik menjadi US$ 2.215 per ton nikel, didorong penurunan biaya tunai 16% yoy menjadi US$ 9.059 per ton.
Baca Juga
Pabrik Acid Iron Metal (AIM) mencatat produksi asam sulfat 251.715 ton. Adapun pabrik klorida dan katoda tembaga masih menjalani komisioning dengan target produksi perdana pada kuartal IV-2025. PT ESG New Energy Material memproduksi 7.181 ton MHP dan menjual 7.553 ton pada kuartal tersebut.
Pembangunan Pabrik HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) telah mencapai 54%, sesuai target komisioning pertengahan 2026. MBMA juga menandatangani perjanjian strategis untuk melanjutkan produksi nikel matte mulai kuartal IV-2025.
Albert menegaskan strategi pertumbuhan multi-aset akan menempatkan Merdeka sebagai produsen logam jangka panjang dengan portofolio multi-komoditas. “Bisnis nikel melalui MBMA terus berkembang dengan margin yang semakin meningkat. Aset-aset ini menguatkan posisi Merdeka sebagai perusahaan pertambangan multi-logam terdepan di Indonesia,” pungkasnya.

