Valuasi MTEL Murah, BRI Danareksa Rekomendasi Beli
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel (MTEL) diprediksi mampu mencetak pertumbuhan yang kuat hingga 2025 dengan kenaikan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih dua digit. Proyeksi tersebut didasarkan berlanjutnya sejumlah akusisi dan peningkatan pendapatan seluruh segmen bisnis.
“Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp960. Target tersebut menggambarkan peluang pertumbuhan yang atraktif, leverage yang rendah, dan valuasi yang masih murah,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, akhir pekan lalu.
Baca Juga
Pertumbuhan Mitratel (MTEL) Diprediksi Lebih Kuat di Sisa Tahun 2023
BRI Danareksa Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih Mitratel menjadi Rp 2,24 triliun tahun ini dan diperkirakan kembali naik menjadi Rp 2,33 triliun tahun 2024. Sedangkan pendapatan diprediksi melesat menjadi Rp 8,59 triliun pada 2023 dan menjadi Rp 9,30 triliun pada 2024, dibandingkan pencapaian tahun 2022 sebanyak Rp 7,72 triliun.
Niko mengurai tingkat pertumbuhan duai digit kinerja keuangan tahun 2023-2025 ditopang sejumlah rencana merger dan akuisisi yang diharapkan berlanjut ke depan. Di antaranya, perseroan tetap melirik akuisisi sejumlah menara telekomunikasi baik dari perorangan maupun perusahaan kecil.
Perseroan juga memiliki tambahan pendapatan dari penjualan dan sewa kembali bisnis power solution kepada operator telekomunikasi. Selain itu, terbuka peluang untuk mengakuisisi perusahaan menara PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), potensi akuisisi fiber aset PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) sepanjang 80-90 ribu kilo meter, kerja sama dengan Telkom Infaco untuk pemanfaatan FTTT, dan pembelian sebanyak 2500-3000 menara telekomunikasi milik Telkomsel.
Baca Juga
Terkait bisnis power solution menara telekomunikasi, Niko memprediksi bisa mendatangkan pertumbuhan pendapatan kuat ke depan. Power solution dengan harga sewa berkisar Rp 1,1juta - Rp1,5 juta per bulan disebut tengah dilirik XL untuk diterapkan di 1.000 menara telekomunikasi.
Mitratel juga tengah berdiskusi dengan beberapa operator telekomunikasi untuk memanfaatkan power solution di sejumlah menara telekomunikasinya. Tak hanya itu, perseroan berpotensi menjadi perusahaan yang akan ditunjuk untuk menangani suplai energi menara telekomunikasi. Hal ini diharapkan melambungkan pendapatan perseroan dari segmen tersebut tahun depan.
Pertumbuhan dua digit Mitratel, ungkap NIko, didukung gencarnya upaya perseroan untuk menggaet tenan baru dengan paket kombinasi penyewaan menara telekomunikasi dan fiber optic, sehingga bisa menaikkan harga sewa. Hal ini menjadi mungkin diterapkan setelah perseroan menguasai fiber optic sepanjang 29.042 km.
Baca Juga
RHB Sekuritas: Kinerja EmitenLampaui Target, Pilihan Teratas 10 Saham Ini
BRI Danareksa Skeuritas juga menyebutkan jaringan fiber optic Mitratel diperkirakan kembali bertambah bersamaan dengan peningkatan permintaan dari operator telekomunikasi, sehingga kontribusi pendapatan dari segmen FTTT diharapkan terus meningkat.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit untuk Mitratel hingga tahun 2025. Begitu juga dengan EBITDA diharapkan bertumbuh dua digit.
Dengan berbagai pertimbangan itu, pelaku pasar meyakini MTEL akan menjadi salah satu sasaran window dressing tahun ini. Konsensus analis menetapkan target harga rata rata MTEL berada di kisaran Rp850 - Rp900 dengan pertimbangan kinerja yang solid, rasio utang rendah, prospek bisnis yang menjanjikan dan saat ini valuasinya masih murah.
window dressing. Konsensus analis menetapkan target harga rata rata MTEL berada di kisaran Rp850 - Rp900 dengan pertimbangan kinerja yang solid, rasio utang rendah, prospek bisnis yang menjanjikan dan saat ini valuasinya masih murah.
Prospek Kinerja Keuangan MTEL:

