MAMI Sebut Valuasi Pasar Saham Lagi Murah, Tiga Sektor Ini Berpeluang Menguat
JAKARTA, investortrust.id - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyampaikan bahwa siklus pemangkasan suku bunga dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk berinvestasi di saham.
Sebagai catatan, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75-5,0%. Sejalan dengan kebijakan The Fed, Bank Indonesia (BI) juga mengambil keputusan serupa dengan menurunkan suku bunga acuan BI Rate dari 6,25% menjadi 6%.
Chief Investment Officer, Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma memaparkan, secara historis pasar saham Indonesia konsisten mencatat kinerja positif dalam periode pemangkasan suku bunga.
Dari sisi valuasi kata dia, per akhir September 2024 pasar saham Indonesia masih terlihat atraktif dengan PE indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada level 13,7 kali, dibandingkan rata-rata 15 kali.
Baca Juga
“Kondisi ini merupakan titik masuk menarik bagi investor,” ujar Samuel dalam keterangan tertulis, Selasa (8/10/2024).
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pada tahun berjalan 2024 minat investor asing terhadap pasar Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan, walaupun akhir bulan lalu pasar saham domestik didera arus keluar investor.
“Memang tidak dapat diabaikan, secara jangka pendek arus dana asing dapat bergerak fluktuatif dipengaruhi oleh faktor yang tentunya harus kita cermati, seperti pemilu Amerika Serikat, tensi geopolitik, risiko moderasi ekonomi domestik, serta fokus kebijakan pemerintah baru,” terangnya.
Untuk itu, MAMI memilih sejumlah sektor yang berpeluang meraup keuntungan dari pemangkasan suku bunga tersebut dengan pertimbangan peluang jangka menengah panjang. Tiga sektor tersebut adalah sektor finansial, telekomunikasi, dan sektor konsumer.
Menurut Samuel, emiten perbankan akan diuntungkan dengan tren suku bunga yang rendah dan kondisi likuiditas yang lebih baik tahun depan sehingga dapat membukukan kinerja pertumbuhan laba yang baik.
Baca Juga
Trimegah AM Bidik AUM Rp 35 Triliun Akhir 2024, Begini Strateginya
“Tekanan jual jangka pendek dari investor asing memberi peluang akumulasi untuk investor jangka panjang,” terang Samuel.
Kemudian, untuk sektor telekomunikasi, keputusan beberapa operator untuk menaikkan harga paket data mengurangi kekhawatiran akan eskalasi kompetisi di industri telekomunikasi. Sehingga, pemulihan bertahap di daya beli masyarakat juga akan mendukung kinerja laba emiten tahun depan.
Terakhir, valuasi emiten konsumer secara umum berada di level yang menarik, jika dibandingkan dengan kinerja finansial emiten yang cukup baik tahun ini. Oleh daripada itu, daya beli konsumen diperkirakan akan terus berangsur membaik tahun depan. (CR-4)

