Deretan Saham Konsumen Non-Primer dengan Valuasi Murah, Ada Saham Jagoan Lo Kheng Hong
JAKARTA, investortrust.id - Industri konsumen non-primer atau consumer cyclical dinilai memiliki prospek yang baik tahun ini, tergambar dari perolehan kinerja semester I-2024. Meski begitu saham yang berada dalam naungan sektor ini masih belum bergerak optimal dan cenderung undervalue.
Saham-saham dimaksud yaitu; PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI), PT Golden Flower Tbk (POLU) dan PT Ever Shine Textile Industry Tbk (ESTI). Selanjutnya diikuti oleh PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) , PT Pan Brothers Tbk (PBRX), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Soekarno Alatas mengatakan, saham tersebut masuk ke dalam kategori undervalue, sebab PER yang di bawah rata-rata industri, kemudian PBV di bawah 1-2 kali atau rata-rata industri.
Walaupun demikian, Sukarno mengatakan bahwa tidak semua saham undervalue layak dikoleksi sebab mempertimbangkan beberapa faktor seperti likuiditas di pasar dan saham yang masuk ke full call auction (FCA).
Baca Juga
Kinerja Astra Otoparts (AUTO) Semester II Pulih, Bagaimana dengan Sahamnya?
Sukarno bilang, saham sektor konsumer non-primer yang layak dicermati adalah saham AUTO, GJTL, dan MNCN.
“Outlooknya ada potensi menguat karena secara valuasi menarik, tapi tetap diperhatikan faktor fundamental dan teknikal masing-masing emiten,” terangnya pada investortrust.id, Minggu (26/8/2024).
Menurut catatan investortrust.id, price earning ratio (PER) saham GJTL hingga akhir pekan lalu (23/8/2024) tercatat 3,24 kali dengan price to book value (PBV) 0,45 kali.
Sedangkan PER saham MNCN 4,01 kali dan PBV 0,23 kali. Sementara itu, PER saham AUTO adalah 5,23 kali dengan PBV 0,73 kali. Ketiga emiten tersebut kinerja yang positif pada semester I-2024.
Asal tahu, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) telah berhasil membukukan kenaikan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 15% menjadi Rp 1,01 triliun pada semester I-2024, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 875 miliar.
Di samping itu, emiten jagoan Lo Kheng Hong, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL), berhasil membukukan kenaikan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 60,72% menjadi Rp 557,15 miliar pada semester I-2024, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 359,09 miliar.
Baca Juga
Emiten Jagoan Lo Kheng Hong (GJTL) Ini Raih Lompatan Laba 60,72%
Lebih lanjut, emiten produsen ban tersebut juga membagikan dividen tunai sebesar Rp 174,22 miliar untuk tahun buku 2023. Hal ini disebabkan oleh catatan laba yang dibukukan berbanding terbalik dari kerugian bersih pada periode sebelumnya.
Sementara itu, emiten yang dikendalikan Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), telah mencatatkan pertumbuhan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 26% dari Rp 240,65 miliar menjadi Rp 303,79 miliar.
Lebih lanjut, Perseroan mengumumkan rencana stock split atau pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:5. Nilai nominal saham akan dipecah dari Rp 50 menjadi Rp 10 per saham. Aksi tersebut akan direalisasikan setelah mendapatkan persetujuan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 23 September 2024.
“Stock split ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham MSIN,” tulis manajemen dalam pengumuman keterbukaan informasi tersebut. (CR-4)
Grafik Harga Saham AUTO, GJTL dan MNCN:

