Dirut Principal AM Sebut Ketidakstabilan Ekonomi Global Bisa Hambat Target AUM Rp 1.000 T
JAKARTA, investortrust.id – Masyarakat dinilai memiliki preferensi memilih produk investasi yang aman di tengah kondisi ketidakstabilan ekonomi global.
Alternatif investasi aman dimaksud salah satunya surat utang negara. Kondisi ini dianggap menjadi salah satu tantangan dalam mengejar target dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana sebesar Rp 1.000 triliun tahun 2027.
Direktur Utama Principal Asset Management (Principal AM), Naresh Krishnan, menjelaskan, kecendrungan investor pada obligasi negara menjadi penyebab dana kelolaan reksa dana mengalami perlambatan beberapa tahun terakhir.
Menurut data yang diolah Investortrust.id, tercatat total dana kelolaan atau AUM reksa dana dari 93 manajer investasi mencapai Rp 499,3 triliun per Februari 2024.
Secara akumulasi dalam rentang tahun 2014 – 2024, total AUM mengalami pertumbuhan sebesar 13,3% per tahun. Meski begitu, secara tahunan nilai AUM reksa dana menurun 4,9% dalam tiga tahun terakhir.
“Dalam 15 tahun terakhir, pasar ekuitas kita memberikan nilai yang bahkan lebih rendah daripada uang tunai. Benar. Itulah kenyataannya. Dan itulah alasan mengapa kita berada di tempat ini saat ini,” ulas Naresh dalam FGD “Berpacu Menuju AUM Rp 1.000 Triliun: Tantangan dan Strategi Industri Reksa Dana” di kantor Investortrust, Jakarta, Jumat (8/3/2024).
Lebih lanjut dikatakan, pada periode yang sama, obligasi pemerintah memberikan pendapatan yang stabil kepada investor.
Pada lain pihak, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menargetkan dana kelolaan bisa tumbuh menjadi Rp 1.000 triliun pada 2027. Sementara, kata dia tingkat suku bunga juga mempengaruhi return atau kinerja dari sebuah reksa dana.
Namun Naresh berharap apabila keadaan ekonomi global sudah mulai membaik, industri bisa reksa dana dapat segera pulih.
“Dan itulah alasan mengapa kita berada pada kondisi saat ini karena volatilitas global dan inflasi The Fed, serta suku bunga yang tinggi. Dan kita berharap ketika keadaan membaik, ketika keadaan melemah, otomatis tingkat suku bunga akan turun. Jadi pemain, manajer investasi bisa menunjukkan nilai yang lebih baik,” papar Naresh Krishnan.
“Menurut saya, titik pemicunya adalah ketika dolar melemah dan suku bunga mulai turun, maka apa pun yang kami tawarkan, pelanggan akan melihat nilainya. Dan itulah yang kami tunggu,” tambahnya.
Dari persaingan industri reksa dana sendiri, Naresh menjelaskan bahwa pihaknya terus menawarkan produk yang berbeda kepada nasabah. Sebab, kata dia, 93 manajer investasi di Indonesia mayoritas menawarkan produk yang sama.
“Di lingkungan kami, kami juga memiliki 90 pemain dan kami memiliki ribuan produk. Dan mayoritas orang hanya berinvestasi di ekuitas Indonesia, pendapatan tetap Indonesia, dan pasar uang. Anda mengerti sekarang? Jadi tidak banyak peluang untuk membedakan, memberikan nilai yang lebih baik. Jadi itulah tantangan utamanya,” pungkasnya. (CR-4)

