Saham BUMN Bukan Jaminan Aman
Oleh Hari Prabowo,
Pendiri LP3M Investa dan penulis buku Rahasia Harga Saham.
Suatu pembelajaran penting bagi teman-teman investor bahwa saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) juga bisa terbelit masalah dan punya risiko besar pula. Jadi, pilih saham berdasarkan fundamentalnya.
Saya memperkirakan banyak investor yang memilih saham BUMN dengan alasan "faktor keamanan".
Kini kita mengetahui beberapa saham BUMN dalam masalah operasionalnya, apa pun alasannya. Dan tidak serta-merta pemerintah bisa langsung ikut membantu dengan menggelontorkan uangnya, karena memang tidak mudah prosesnya.
Pemerintah melalui Kementerian BUMN memang harus introspeksi atas kerugian yang menimpa perusahaan BUMN, khususnya yang telah go public. Salah kebijakan atau salah kelola?
Padahal proyek atau bidang usaha yang digeluti perusahaan BUMN tersebut sangat prospektif, bahkan pemerintah sudah memberikan berbagai fasilitas yang bisa menguntungkan perusahaan.
Untuk diketahui, pemerintah menguasai 75,34% saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), 65% saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), 64,53% saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), dan 80% saham PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS).
Namun semuanya rugi besar dan juga pernah bermasalah!
Kini investor publik yang memiliki saham tersebut ikut menanggung risiko, dan inilah suatu konsekuensi salah pilih saham perusahaan.
Harapan saya, semoga segera ada penanganan yang baik, bukan saja untuk menyehatkan perusahaan saja, tetapi juga untuk menjaga kepercayaan investor.
Sebaliknya saya juga mengingatkan agar investor jangan membeli saham hanya emitennya berstatus BUMN, tapi lihat fundamentalnya.***
