LQ45 Keteteran, Saham Konglomerasi Baru Jadi Motor IHSG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja pasar modal sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Meski IHSG sudah menanjak hampir 15% secara year to date (ytd), indeks LQ45 justru tertinggal jauh.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pelemahan LQ45 disebabkan oleh saham-saham perbankan besar yang justru menjadi beban.
“IHSG udah naik hampir 15% ytd, tapi LQ45 masih seret gara-gara bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI yang bukannya mendongkrak indeks, malah jadi beban,” ujar Liza kepada investortrust.id Jumat, (26/9/2025).
Di sisi lain, justru saham-saham di luar LQ45 yang kini menjadi primadona. Ia mencontohkan konglomerasi seperti Barito Group (BRPT, BREN, CUAN, TPIA, DSSA), Salim Group lewat AMMN maupun PANI dengan proyek PIK 2, hingga saham data center seperti DCII.
“Semua narasi yang lagi laku keras, mulai dari MSCI, transisi energi, green energy, ESG, hilirisasi nikel, properti superblok, sampai digitalisasi itu semua adanya di mereka. Makanya gap IHSG dan LQ45 makin kelihatan,” jelasnya.
Menurut Liza, rebound LQ45 tetap terbuka, seiring penurunan BI rate dan adanya tambahan likuiditas Rp 200 triliun dari Kementerian Keuangan. Namun, kuncinya ada pada efektivitas penyaluran kredit perbankan serta perkembangan NIM dan NPL.
Baca Juga
IHSG Rebound 0,22% Ditopang BREN hingga ARA Landa 6 Saham Pagi Ini
“Strategi paling masuk akal: pegang aja sebagian bank LQ45 buat jangka menengah, tapi jangan tutup mata sama saham konglomerasi baru yang lagi hype. Karena di kala blue chips old-school tiarap going nowhere, merekalah yang bawa likuiditas dan mood pasar sekarang,” katanya.
Sementara itu, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana alias Didit, menilai arah IHSG banyak dipengaruhi faktor makro dan kebijakan. Ia memetakan enam sentimen utama yakni reshuffle kabinet, khususnya pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya, yang masih menimbulkan tanda tanya arah kebijakan fiskal.
“Lalu pemangkasan suku bunga BI menjadi 4,75% dari 5%. Kemudian suntikan dana Rp 200 triliun ke bank-bank Himbara yang sempat mengangkat saham perbankan pelat merah,” ujarnya saat dihubungi investortrust.id Jumat, (26/9/2025).
Kemudian ia juga menyoroti rilis stimulus pemerintah yang diharapkan bisa memutar kembali roda ekonomi. Adapun pemangkasan suku bunga The Fed yang memberi sentimen positif ke Wall Street dan IHSG. Dan ketidakjelasan arah kebijakan The Fed ke depan, yang membuat investor wait and see serta menekan rupiah lewat kenaikan yield UST.
“Ketidakpastian global, khususnya dari The Fed, membuat pelaku pasar masih hati-hati. Yield UST yang menguat juga jadi tekanan tambahan bagi rupiah,” terang Didit.

