Sssttt...! Pasar Kripto Berpotensi Bullish sampai 2025, Ini Katalisnya
JAKARTA, investortrust.id – Para investor kripto menaruh optimisme tinggi bahwa pasar kipto bakal tetap kuat (bullish) dan berada dalam teritori positif sepanjang tahun 2024-2025. Indikasi itu ditunjukkan oleh kinerja Bitcoin yang sejak Januari 2023 melonjak lebih dari 160%, mengakhiri periode pelemahan (bearish) tahun sebelumnya.
Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha menyebutkan, perbaikan latar belakang makroekonomi dapat menjadi faktor pendorong pasar kripto untuk mempertahankan momentum positif tahun depan. Katalis makroekonomi dimaksud antara lain antisipasi bahwa Bank Sentral AS, The Fed, bakal menurunkan suku bunga beberapa kali pada 2024.
“Saat ini, kebijakan suku bunga The Fed sedang dalam perjalanan menuju perubahan arah. Dalam empat dari lima pertemuan terakhir, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 5,2-5,5%, termasuk dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir tahun ini,” papar Panji secara tertulis, Selasa (26/12/2023).
Baca Juga
Relaksasi tersebut, menurut Panji Yudha, dilakukan setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan (Fed funds rate/FFR) sebanyak 11 kali dalam dua tahun terakhir.
Dia menjelaskan, pada November 2023, tingkat inflasi tahunan (yoy) di AS melambat menjadi 3,1% atau menjadi yang terendah dalam lima bulan terakhir, turun dari 3,2% pada Oktober 2023. Hal ini sejalan dengan prediksi pasar (konsensus).
Target Inflasi AS
The Fed, kata Panji, optimistis dapat menekan laju inflasi pada 2024 untuk menuju ke target 2%, seiring pertumbuhan ekonomi serta aktivitas pasar tenaga kerja yang melambat.
“Pelaku pasar antusias dengan kemungkinan pemangkasan FFR sebesar 25 basis poin mulai Maret 2024, dengan probabilitas sekitar 74,8% menurut FedWatch Tool CME,” tutur Panji.
Panji Yudha mengungkapkan, situasi tersebut menggambarkan bahwa periode kenaikan suku bunga mungkin sudah berada di ujungnya. Alhasil, hal itu menimbulkan optimisme di pasar keuangan terkait perubahan kebijakan The Fed yang akan berdampak positif ke pasar kripto.
Katalis kedua, menurut Panji Yudha, adalah penantian persetujuan ETF Bitcoin spot. Pasar kripto tengah menanti keputusan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) pada Januari 2024 perihal serangkaian aplikasi Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot.
Baca Juga
Para Pemburu Kripto, Inilah 4 Altcoin Murah yang Layak Dibeli
“Keputusan itu dapat memengaruhi cara investor berinteraksi dengan Bitcoin, sekaligus membuka pintu akses yang lebih teratur untuk berinvestasi pada aset digital ini,” tutur dia.
Panji menambahkan, lebih dari 10 aplikasi diajukan oleh institusi besar, seperti BlackRock, Fidelity, dan Invesco. Keputusan SEC atas aplikasi ini akan menjadi acuan bagi produk keuangan kripto di masa depan.
ETF Bitcoin, yang memberikan kemudahan berinvestasi tanpa kompleksitas kepemilikan langsung ke aset kripto, diharapkan membawa keuntungan aksesibilitas, diversifikasi, dan manajemen profesional. “Namun, keputusan SEC juga memiliki risiko dan dampak besar terhadap regulasi di AS,” ujar dia.
Katalis ketiga, kata Panji Yudha, adalah Bitcoin halving 2024. Bitcoin halving adalah peristiwa yang terjadi empat tahun sekali ketika block reward (imbal hasil) yang diperoleh para penambang Bitcoin dipotong setengahnya dengan tujuan membatasi pasokan dan menekan inflasi.
Panji mengakui, komunitas kripto menantikan peristiwa halving Bitcoin yang diproyeksikan terjadi pada 2024. Bitcoin halving hanya terjadi sekitar empat tahun sekali, dengan reward mining satu blok Bitcoin dibagi dua setiap 210 ribu blok, hingga mencapai batas maksimum 21 juta.
Halving pertama terjadi pada 28 November 2012. Kala itu, imbalan penambang yang awalnya 50 BTC dikurang menjadi 25 BTC. Selanjutnya, di halving kedua terjadi pada 9 Juli 2016 ketika block reward dipotong dari 25 BTC menjadi 12,5 BTC.
Terakhir, halving Bitcoin terjadi pada 11 Mei 2020, yakni dari 12,5 BTC menjadi 6,25 BTC. Bitcoin saat ini menuju ke siklus halving keempat. Momen tersebut diharapkan terjadi pada April 2024 dengan reward penambang dikurangi menjadi 3,125 BTC.
“Didukung penerbitannya yang berkurang setiap terjadinya Bitcoin halving, hal tersebut juga berdampak positif ke harga Bitcoin,” imbuh Panji.
Baca Juga
Terkoreksi pada 2026
Panji mengemukakan, pada 2011-2021 terdapat sebuah pola yang menarik terhadap pergerakan harga Bitcoin. Jika dilihat siklusnya, Bitcoin menguat satu tahun sebelum halving, pada tahun terjadinya halving, dan setahun setelah halving.
Contohnya BTC menguat pada 2011-2013, lalu turun pada 2014, dan kembali menguat pada 2015-2017. BTC selanjutnya terkoreksi pada 2018. Begitu pula selama periode halving 2020, BTC menguat sejak 2019 hingga 2021, sebelum akhirnya terkoreksi pada 2022.
“Bitcoin pada 2023 bergerak bullish dan berpeluang melanjutkan momentum tersebut hingga 2025 dan baru terkoreksi pada 2026,” papar dia.

