IHSG Masih Berpotensi Bergerak Positif Hingga Akhir Pekan, Ini Katalisnya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) disebut masih berpotensi bergerak positif hingga akhir pekan. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memprediksi, IHSG akan bergerak positif sampai 7 Februari 2025 dengan delapan katalis penggerak.
Pertama, ada katalis dari perilisan data inflasi Badan Pusat Statistik (BPS) pekan ini. Inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2025 diperkirakan meningkat menjadi 1,88% dari 1,57% pada Desember 2024. Perlu diketahui bahwa Bank Indonesia (BI) telah menetapkan sasaran inflasi untuk tahun 2025 dalam kisaran 2,5% ± 1%, yaitu antara 1,5% hingga 3,5%.
“Dengan besaran data inflasi tahunan saat ini yang mendekati batas bawah di 1,5%, pasar akan lebih berekspektasi inflasi bisa sesuai dengan proyeksi atau lebih tinggi, yang menggambarkan bangkitnya daya beli,” jelas Imam.
Kedua, data kunjungan wisatawan mancanegara (foreign tourist arrivals) ke Indonesia akan dirilis pada pekan yang sama. Data ini menjadi indikator penting bagi pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi nasional.
Baca Juga
Sekuritas Sebut Empat Faktor ini Jadi Biang Keladi Pelemahan IHSG
Imam menilai, jumlah wisatawan asing sangat berpengaruh terhadap berbagai sektor, terutama perhotelan, transportasi, kuliner, dan ritel, yang bergantung pada belanja turis.
Ketiga, Institute for Supply Management (ISM) akan merilis data ISM Manufacturing PMI untuk bulan Januari 2025 pada pukul 22:00 WIB. Konsensus pasar memperkirakan angka PMI akan berada di level 49,5, sedikit lebih tinggi dari 49,3 pada bulan Desember 2024.
Dengan proyeksi PMI Januari 2025 di angka 49,5, sektor manufaktur AS diperkirakan masih mengalami kontraksi. “Data ini penting untuk memantau kesehatan sektor manufaktur dan dapat memengaruhi kebijakan moneter, serta keputusan investasi di pasar globa,” sebut Imam.
Keempat, OPEC+ juga dijadwalkan mengadakan pertemuan pada 3 Februari 2025 untuk membahas kebijakan produksi minyak mereka. OPEC dan sekutunya seperti Rusia dan Kazakhstan, telah membatasi produksi minyak mereka sebesar 5,86 juta barel per hari sejak 2022 untuk mendukung stabilitas pasar minyak global.
Sebelum pertemuan, Menteri Energi Arab Saudi, Irak, dan Libya bertemu di Riyadh untuk membahas upaya menstabilkan pasar energi global. Pertemuan ini menunjukkan komitmen OPEC+ dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.
Baca Juga
Inflasi Januari 2025 Secara Tahunan Lebih Rendah dari Januari 2024
Meskipun ada tekanan dari Presiden AS, Donald Trump, yang mendorong OPEC untuk menurunkan harga minyak guna membantu mengakhiri konflik di Ukraina, OPEC+ belum memberikan respons resmi terhadap permintaannya.
Kelima, pekan ini Indonesia dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal IV-2024. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal tersebut mencapai 5,01% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedangkan Bank Indonesia memperkirakan ekonomi RI 2024 tumbuh di kisaran 4,7%-5,5%, dengan nilai tengah di angka 5,1%.
“Konsensus mempunyai perkiraan lebih konservatif di angka 4.96%,” imbuh Imam.
Keenam, terdapat sentimen berupa perilisan data cadangan devisa oleh Bank Indonesia (BI) untuk periode Januari 2025. Berdasarkan kalender ekonomi yang tersedia, data tersebut diperkirakan akan diumumkan pada 7 Februari 2025.
Secara umum, Imam menjelaskan, cadangan devisa yang memadai adalah indikator penting dari ketahanan ekonomi suatu negara dalam menghadapi tantangan eksternal, Hal ini juga dapat memastikan kestabilan ekonomi jangka panjang.
Data terakhir menunjukkan, cadangan devisa Indonesia cukup untuk menutupi kebutuhan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan.
Baca Juga
Cadangan Devisa Cetak Rekor US$ 155,7 Miliar, Transaksi Modal dan Finansial Surplus
Ketujuh, data Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran Amerika Serikat (AS) untuk periode Januari 2025 juga dijadwalkan akan dirilis pada 7 Februari 2025. Merujuk pada konsensus, NPF diproyeksikan akan melandai ke 170.000 dari Desember di angka 256.000.
NFP mengukur jumlah pekerjaan baru yang diciptakan di AS selama bulan sebelumnya, di semua sektor non-pertanian. Data ini menjadi indikator penting bagi pengeluaran konsumen dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Sedangkan dari sisi tingkat pengangguran AS diproyeksikan akan tetap berada di angka 4,1%. Tingkat pengangguran menunjukkan persentase angkatan kerja yang tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan.
“Data ini menjadi indikator penting bagi kesehatan pasar tenaga kerja,” sambung Imam.
Kedelapan, Data Indeks Harga Konsumen (IHK) China periode Januari 2025 dijadwalkan akan dirilis pada 9 Februari 2025, pukul 01:30 GMT atau 08:30 WIB. Data inflasi China dinilai sangat penting untuk Indonesia karena China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.
Jika inflasi di China meningkat, hal ini bisa berpengaruh pada daya beli masyarakat China, yang pada gilirannya dapat memengaruhi permintaan terhadap barang-barang ekspor Indonesia, seperti komoditas dan produk manufaktur.
“Sebaliknya, deflasi atau rendahnya inflasi di China bisa menurunkan permintaan tersebut,” tutup Imam.

