Pengaruh Trump di The Fed, Emiten di BEI Ini Bakal Kecipratan Sentimen Positif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Penunjukan Stephen Miran sebagai anggota Dewan Gubernur sementara The Federal Reserve (The Fed) oleh Presiden AS Donald Trump menjadi manuver politik-ekonomi yang strategis, sekaligus memberi sinyal kuat arah kebijakan moneter global.
Miran, yang saat ini menjabat Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Trump, dikenal memiliki pandangan pro terhadap pelonggaran kebijakan moneter.
Dalam tulisannya untuk Manhattan Institute, ia bahkan mendorong agar presiden memiliki kendali yang lebih besar atas Dewan Fed, termasuk memperpendek masa jabatan para gubernurnya. Dengan menggantikan Adriana Kugler yang mengundurkan diri, Miran memiliki peran penting meski hanya sebagai pengisi sementara hingga awal 2026.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai langkah ini membuka ruang bagi Trump untuk memiliki pengaruh langsung terhadap kebijakan suku bunga, tanpa harus menunggu habisnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei 2026, yang selama ini enggan menurunkan suku bunga secara agresif sesuai keinginan Trump.
“Jika pengaruh Trump di The Fed menguat dan Miran mendorong pelonggaran moneter, peluang penurunan suku bunga di AS akan semakin besar,” ujarnya kepada investortrust.id Jumat, (8/8/2025).
Baca Juga
Trump Siapkan ‘Shadow Chair’ di The Fed? Yield USTreasury Bergerak Naik
Lebih lanjut, menurut Hendra penurunan suku bunga The Fed akan membuat imbal hasil obligasi AS turun, sehingga arus modal berpotensi keluar menuju pasar negara berkembang yang menawarkan return lebih menarik, termasuk Indonesia.
Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia (BI) akan mendapat dorongan untuk memangkas suku bunga acuannya guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi. Penurunan suku bunga BI akan menurunkan biaya pinjaman, memperbesar konsumsi, dan meningkatkan investasi di sektor riil.
Hendra menjabarkan dampaknya akan sangat terasa di sektor perbankan dan properti, dua sektor yang paling sensitif terhadap biaya dana murah. “Perbankan akan diuntungkan dari lonjakan permintaan kredit konsumsi dan produktif, sementara sektor properti akan terdorong oleh cicilan KPR yang lebih ringan dan minat beli rumah yang meningkat,” terang Hendra.
Bagi pasar modal Indonesia, ia menyebut skenario ini bisa menjadi katalis positif. Saham-saham big caps di sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI berpotensi menguat seiring proyeksi peningkatan kredit.
Sementara itu, emiten properti besar seperti CTRA, BSDE, SMRA, dan PWON berpeluang mencatat kenaikan penjualan dan laba. Hendra juga melihat investor juga akan lebih optimistis terhadap IHSG karena kombinasi likuiditas global yang longgar dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif.
“Artinya, langkah politik Trump di Washington yang sekilas tampak hanya berdampak di Amerika, pada kenyataannya bisa menjadi pemicu pergerakan positif di Bursa Efek Indonesia, terutama jika pasar melihat peluang pelonggaran suku bunga sebagai sinyal percepatan pertumbuhan ekonomi,” paparnya.
