Sentimen-sentimen Positif yang Mengiringi ADRO
JAKARTA, investortrust.id – Estimasi peningkatan volume penjualan batu bara ditambah penurunan biaya penambangan akan menjadi faktor penopang kinerja keuangan hingga saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) di tengah penurunan rata-rata harga jual batu bara tahun ini. Perubahan formula penetapan harga batu bara oleh pemerintah juga positif bagi ADRO. Berbagai sentimen positif ADRO membuat tiga sekuritas merekomendasikan beli.
Analis Indopremier Sekurtias Reggie Parengkuan dan Erindra Krisnawan mengatakan, volume penjualan batu bara perseroan diprediksi mencapai 67 juta ton tahun ini. Hal ini diharapkan membuat perseroan mampu untuk menjaga performa keuangan tetap baik di tengah penurunan rata-rata harga batu bara global.
Dengan asumsi rata-rata harga jual berkisar US$ 107 per ton dan biaya penambangan (cash cost) berkisar US$ 69 juta sepanjang tahun 2023, pendapatan perseroan diprediksi bisa mencapai US$ 4,96 miliar dan laba bersih berkisar US$ 848 juta. Angka tersebut memang lebih rendah dari raihan tahun lalu, tetapi cukup baik di tengah tren penurunan harga komoditas batubara global.
“Kondisi ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 4.650 per saham Target tersebut merefleksikan perkiraan PER tahun ini sekitar 7,1 kali dan kinerja operasional yang tumbuh solid,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan, belum lama ini.
Dukungan positif terhadap prospek saham ADRO juga datang dari analis Trimegah Sekuritas Alpinus Dewangga dan Willinoy Sitorus. Mereka menyebutkan perubahan formula penetapan harga batu bara acuan (HBA) dan harga patokan batu bara (HPB) menjadi angin segar di tengah penurunan harga batu bara global. Perubahan formula ini berdampak positif terhadap saham batu bara, termasuk ADRO.
Sebelumnya, pemeritah menerbitkan regulasi Menteri ESDM Nomor 227.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan Untuk Penjualan Komoditas Batu Bara akan berimbas positif terhadap emiten batu bara. Peraturan baru tersebut justru membuat perhitungan harga batu bara untuk pasar domestik lebih riil sesuai dengan kondisi harga terkini, sehingga pajak royalti juga lebih adil.
Berdasarkan perhitungan Trimegah Sekuritas, formula baru ini bisa memangkas pajak royalti batu bara berkisar 1,3%, dibandingkan formula sebelumnya. Besaran pajak royalti masing-masing emiten batu bara tentu berbeda-beda. Hal ini mendorong Trimegah Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 3.100 per saham.
Jangka Panjang
Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam riset terakhirnya menyebutkan bahwa peningkatan volume penjualan batu bara Adaro sebanyak 19% menjadi 32,62 juta ton dan produksi menjadi 33,41 juta sepanjang semester I-2023 mendapatkan penilaian positif dari Mandiri Sekuritas.
“Realisasi volume produksi tersebut sudah sesuai estimasi atau merefleksikan 52% dari target tahun ini yang berkisar 62-64 juta ton. Sedangkan biaya penambangan dan royalti masih moderat,” jelas analis Mandiri Sekuritas Wesley Louis Alianto dan Ariyanto Kurniawan melalui Investor Digets Mandiri Sekuritas bulan lalu.
Mandiri Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan perseroan untuk mengamankan pendapatan pembangunan smelter Kalimantan Aluminum Industry (KAI) dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun.
“Kami meyakini bahwa saham ADRO memang akan terimbas sentimen negatif penurunan harga batu bara global, meski demikian valuasi saham perusahaan ini masih menarik dalam jangka panjang. Hal ini didukung rencana ekspansi smelter aluminium dan kawasan industri hijau," urai Mandiri Sekuritas.
Dukungan positif terhadap pergerakan harga saham ADRO juga datang dari upaya manajemen untuk menyeimbangkan model bisnis dengan mengurangi kontribusi segmen batu bara dan mulai gencar mengembangkan bisnis hijau. Oleh karena itu, saham ADRO direkomendasikan netral dengan target harga Rp 3.400.
Prospek Saham ADRO
Indopremier Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 4.650
Trimegah Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 3.100
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 3.400
Margin Sehat
Selama semester I-2023, ADRO membukukan akumulasi laba sebesar US$ 995,96 juta atau setara Rp 14,93 triliun. Perolehan laba tersebut menurun 25,97% (yoy) dibanding periode sama tahun sebelumnya senilai US$ 1,34 miliar, karena melemahnya harga harga jual batu bara di pasar internasional. Namun volume penjualan periode tersebut naik 19% jadi 32,62 juta ton.
Menurut Presiden Direktur/ CEO Adaro Energy Indonesia, Garibaldi Thohir, Selasa (22/8/2023), penurunan laba bersih ADRO juga disebabkan oleh penurunan tipis pendapatan bersih dari US$ 3,54 miliar (Rp 52,70 triliun) menjadi US$ 3,47 miliar (Rp 52,18 triliun).
Kenaikan penjualan batu bara perseroan sebesar 19% sepanjang semester I-2023 tidak dapat mengompensasi penurunan harga jual rata-rata batu bara sebesar 18% pada periode tersebut.
Tapi, Garibaldi Thohir menekankan bahwa kekuatan operasional ADRO di tengah fluktuasi harga dan kenaikan biaya sangat solid. “Terbukti, kami berhasil meraih margin yang sehat dengan menghasilkan laba inti sebesar US$ 1,02 miliar, di tengah kondisi pasar batu bara yang tidak stabil,” kata pengusaha yang akrab disapa Boy Thohir ini.
Beranjak dari optimisme itu, Boy Thohir menyatakan bahwa target 2023 yang dicanangkan ADRO bakal tercapai sesuai skenario. Hal tersebut didukung oleh eksekusi yang solid pada masing-masing lini bisnis. Perseroan juga mendukung program hilirisasi yang digariskan oleh Pemerintahan Presiden Jokowi, dengan membangun smelter aluminium serta berkomitmen pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan lewat implementasi ESG (enviromental, social, and governance).
Sementara itu, kendala yang dihadapi ADRO terkait performa adalah kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 34,09% menjadi US$ 2,03 miliar dibanding periode sebelumnya senilai US$ 1,51 miliar. Beberapa tambahan beban tersebut meliputi kenaikan beban usaha sebesar 68,17% (yoy) menjadi US$ 240,63 juta, kenaikan biaya royalti, peningkatan biaya bahan bakar yang meningkat 13% akibat kenaikan konsumsi bahan bakar sebesar 17%. Ada juga kenaikan beban penjualan dan pemasaran.
Berbagai beban tambahan tersebut membuat laba kotor ADRO terkoreksi 28,59% menjadi US$ 1,44 miliar serta laba usaha turun 37,69% menjadi US$ 1,17 miliar.
Delapan Pilar Bisnis
Sejarah Adaro dimulai dari guncangan minyak dunia pada tahun 1970-an. Ketika itu, Pemerintah Indonesia merevisi kebijakan energinya, yang semula berfokus pada minyak dan gas, untuk mendiversifikasi batu bara sebagai bahan bakar untuk dalam negeri.
Pada tahun 1976, Departemen Pertambangan membagi Kalimantan Timur dan Selatan menjadi 8 blok batu bara dan membuka tender untuk blok-blok tersebut. BUMN Spanyol, yakni Enadimsa, memasang tawaran untuk Blok 8 di wilayah Tanjung, Kalimantan Selatan, karena tertarik pada kandungan batu bara yang sudah dipetakan oleh ahli-ahli geologi Belanda pada tahun 1930-an dan dari perpotongan pada sumur minyak yang telah dibor oleh Pertamina pada tahun 1960-an.
Nama Adaro dipilih oleh Enadimsa untuk menghormati keluarga Adaro, yang sangat terkenal dalam sejarah Spanyol, yang berperan besar dalam kegiatan penambangan di Spanyol selama beberapa abad. Dengan demikian lahirlah PT Adaro Indonesia.
Perjanjian kerja sama batu bara Adaro Indonesia (CCA) ditandatangani pada tanggal 2 November 1982. Enadimsa melaksanakan kegiatan eksplorasi di area perjanjian dari tahun 1983 hingga 1989, ketika konsorsium beranggotakan perusahaan Australia dan Indonesia membeli 80% kepemilikan Adaro Indonesia dari Enadimsa.
Pada awal 1990-an, Adaro melaksanakan studi kelayakan untuk meletakkan dasar pembangunan proyek. Perusahaan memutuskan untuk membangun jalan pengangkutan batu bara sepanjang 80 km di sebelah barat Sungai Barito, daripada membangun jalan sepanjang 130 km di sisi timur Adang Bay pesisir Kalimantan. Produksi batu bara juga diputuskan dimulai dari tambang Paringin karena memiliki nilai panas yang lebih tinggi daripada tambang Tutupan.
Langkah pertama dalam pengembangan deposit batu bara adalah mengajukan pembiayaan ke sejumlah bank pada Mei 1990. Namun semua bank yang didekati menolak memberikan pembiayaan karena masalah kualitas batu bara, yakni jenis sub-bituminus yang belum diperdagangkan secara internasional. Karena itu, para pemegang saham memberikan dana pembangunan untuk konstruksi dan pembangunan kegiatan operasional Adaro.
Konsumen luar negeri pertama batu bara Adaro adalah Krupp Industries Jerman, yang tertarik dengan karakter ramah lingkungan Envirocoal sebanyak 68.750 ton. Pengiriman dilanjutkan pada tahun 1992 kepada beberapa pelanggan potensial.
Adaro beroperasi secara komersil pada tanggal 22 Oktober 1992.
Sejak itu, tambang Adaro Indonesia telah bertumbuh menjadi lokasi tambang tunggal terbesar di belahan bumi bagian selatan, dan produksi telah bertumbuh dari awal mula 1 juta ton pada tahun 1992, dan beberapa tahun mencetak pertumbuhan yang luar biasa. Pada tahun 2006, Adaro meningkatkan produksi menjadi 34,4 juta ton dan tahun 2021 mencapai 52,7 juta ton.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 9 Februari 2022, para pemegang saham menyetujui perubahan nama perseroan dari PT Adaro Energy Tbk menjadi PT Adaro Energy Indonesia Tbk. Perubahan ini menandakan status perusahaan sebagai perusahaan nasional dan menunjukkan komitmen PT Adaro Energy Indonesia Tbk untuk berkontribusi lebih besar bagi Indonesia.
PT Adaro Energy Indonesia Tbk merupakan perusahaan tambang batu bara dan energi terintegrasi, dengan delapan pilar bisnis yang meliputi sektor batu bara, energi, utilitas, dan infrastruktur pendukung. Grup Adaro mengembangkan sayap bisnis sebagai pilar p[enting di samping batu bara, seperti Adaro Services, Adaro Power, Adaro Logistics, Adaro Land, Adaro Water, Adaro Capital dan Adaro Foundation, yang baik secara langsung maupun tidak langsung mendukung pilar Adaro Mining. (hg)

