IHSG Tergerus 1,74% dan Saham Emas-Migas Ini justru Tancap Gas, Apa Pemicunya?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tergerus 1,74% atau 119,997 poin dan parkir di level 6.787,14 pada perdagangan Senin (23/6/2025). Hanya saja penurunan ini belum bisa dikategorkan terjadi tren penurunan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, jumlah tersebut belum menandakan tekanan yang signifikan terhadap IHSG. “Memang sentimen negative masih dipengaruhi oleh berkaitan dengan skala risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah, dengan Amerika Serikat (AS) memberikan dukungan militer terhadap Israel dan menyerang fasilitas nuklir di Iran,” jelas Nafan kepada Investortrust.id, sore ini.
Baca Juga
BSI Bidik Total Transaksi Lebih dari Rp 2,4 Triliun di BSI International Expo 2025
Dari dalam negeri, Nafan memperkirakan, pelaku pasar tengah menanti data purchasing managers index (PMI) manufaktur yang sejauh ini masih dalam kontraksi. Faktor ini turut menjadi salah satu dampak serius dari adanya perang tersebut. “Sehingga tentunya ini memengaruhi lonjakan biaya produksi, gangguan logistik global, dan rantai pasok bahan baku,” sambung Nafan.
Lebih rinci, dia menegaskan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang menjadi komoditas utama dan kebutuhan pokok, termasuk bagi AS untuk menjalankan manufakturnya.
Belum lagi, sebagai respons serangan AS, Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman minyak dunia. “Kalau situasi di Timur Tengah memanas, tentu akan membawa kenaikan harga minyak dunia yang punya resistance di kisaran US$ 80-82 per barel,” imbuh Nafan.
Baca Juga
Obligasi & Rights Issue di BEI Himpun Dana Rp 74,76 Triliun Hingga 20 Juni 2025
Situasi geopolitik itu pun menjadi ancaman bagi The Fed dan dapat memengaruhi kebijakan moneternya, dengan penurunan suku bunga hanya dua kali, dari proyeksi sebelumnya sebanyak tiga kali. Sementara Bank Indonesia (BI) diperkirakan lebih menjaga kinerja makroprudensial dalam rangka menjaga stabilitas Rupiah.
Dalam perdagangan hari ini di BEI, harga sejumlah saham dengan bisnis dasar pertambangan, pengolahan, dan perdagangan emas terapresiasi, berbanding terbalik dengan arah pergerakan IHSG. Saham-saham dimaksud, antara lain MDKA yang terapresiasi 0,99% atau 20 poin menjadi Rp 2.040 per saham, PSAB yang terkerek 4,66% menjadi Rp 494 per saham, dan HRTA yang naik 0,8% menjadi Rp 630 per saham.
Baca Juga
Obligasi & Rights Issue di BEI Himpun Dana Rp 74,76 Triliun Hingga 20 Juni 2025
“Kalau terjadi perang, pasar uang bergejolak, Dolar AS juga dianggap sebagai instrumen safe haven dalam (kondisi) koreksi (indeks) ini. Sedangkan emas, seiring dinamika uncertainty yang berjalan progresif dari tahun ke tahun selalu menciptakan tren kenaikan harga seperti USD,” jelas Nafan.
Di sisi lain, gejolak harga minyak mentah dunia turut mengerek harga saham sejumlah perusahaan minyak dan gas (migas) dan industri pendukungnya. Perdagangan di BEI hari ini menunjukkan penguatan harga saham MEDC sebesar 1,4% menjadi Rp 1.450 per saham, ELSA 1,21% menjadi Rp 500 per saham, ENRG 7,82% menjadi Rp 386 per saham, PGAs 1,57% menjadi Rp 1.615, dan ESSA 2,26% menjadi Rp 680.

