Laba Mayora (MYOR) Tergerus Saat Pendapatan Naik di 2024, Apa Pemicunya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Mayora Indah Tbk (MYOR) membukukan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 3 triliun pada 2024, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 3,19 triliun. Laba per saham juga turun dari Rp 143 menjadi Rp 134 per saham.
Manajemen MYOR dalam rilis laporan kinerja keuangannya menyebutkan bahwa tergerusnya laba tahun berjalan atribusi tersebut berbanding terbalik dengan penjualan yang justru melesat dari Rp 31,48 triliun menjadi Rp 36,07 triliun.
Baca Juga
Mayora (MYOR) Bidik Pertumbuhan Penjualan Dua Digit, Ini Penopangnya
Penurunan laba bersih dipengaruhi atas pertumbuhan beban pokok penjualan lebih besar, dibandingkan pertumbuhan penjualan. Alhasil laba kotor MYOR turun dari Rp 8,40 triliun menjadi Rp 8,30 triliun.
Perseroan juga mencatat kenaikan beban penjualan dari Rp 3,35 triliun menjadi Rp 3,52 triliun dan beban umum administrasi naik dari Rp 750,50 miliar menjadi Rp 857,91 miliar. Peningkatan ini memicu laba usaha turun dari Rp 4,29 triliun menjadi Rp 3,91 triliun.
Baca Juga
Sebaliknya Mayora (MYOR) mencatatkan pertumbuhan pesat total aset tahun lalu menjadi Rp 29,72 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 23,87 triliun. Total liabilitas ikut meningkat pesat dari Rp 8,58 triliun menjadi Rp 12,62 triliun.
Meski mencatatkan penurunan laba bersih, Mayora (MYOR) berhasil mencatatkan kenaikan kas dan setara kas akhir tahun dari Rp 4,15 triliun menjadi Rp 4,60 triliun.
Sementara itu, Stockbit Sekuritas dalam riset hari ini menyebutkan bahwa perolehan laba bersih tersebut sudah setara dengan 98% dari estimasi konsensus analis. Perseroan juga menunjukkan pemulihan margin laba kotor dan opex ternormalisasi pada kuartal terakhir tahun 2024. "Dengan kuatnya tren pendapatan, prospek perbaikan margin akan menjadi faktor kunci pemulihan harga saham MYOR ke depan," tulisnya.

