Saham Tembakau Tidak Disukai, Padahal Menjanjikan
JAKARTA, investortrust.id – Saham-saham hasil tembakau (rokok) kerap dipandang sebelah mata. Bahkan, para investor umumnya tidak menyukai saham sektor yang satu ini. Padahal, saham rokok cukup menjanjikan. Apalagi industri rokok di Tanah Air sedang mengalami transformasi dan siap mengarungi fase pertumbuhan.
“Sektor rokok sangat menarik, tetapi sektor ini paling tidak disukai. Jadi, positioning investor di sektor ini cukup tipis. Dengan kondisi seperti itu, secara liquidity seharusnya saham sektor ini mudah naik,” kata analis ekuitas Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama pada sesi Coffee Talk with Consumer Sector Expert, Indonesia Investment Education Channel Youtube, Sabtu (4/11/2023).
Willy mencontohkan, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dulu hanya dikenal sebagai produsen rokokyang mampu mempertahankan pangsa pasar dan kurang agresif menaikkan harga. Namun, kini Gudang Garam juga dikenal dengan proyek-proyek infrastrukturnya yang prestisius, seperti jalan tol dan bandara.
“Ternyata banyak yang tidak sadar, tahun ini ada perubahan strategi karena Gudang Garam punya proyek infrastruktur, seperti membangun tol dan bandara. Mereka butuh uang. Jadi, cara paling cepat untuk mendapatkan profit yamenaikkan harga,” papar Willy.
Menurut Willy Goutama, strategi menaikkanharga yang diterapkan Gudang Garamtidak hanya mengubah dinamika industri hasil tembakau, tetapi juga memengaruhi daya beli konsumen. Saat ini, produk Gudang Garammerupakan yang termahal.
“Sekarang rokok keluaran PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) sudah tidak paling mahal lagi. Yang paling mahal sekarang adalah Gudang Garam. Misalnya Gudang Garam Filter International, harganyasudah Rp 2.200 itu per batang. Just to put you in context Indomie, satu bungkusnya saja Rp 3.000,” ujar Willy.
Saat konsumen berjuang dengan daya beli yang menurun, kata dia, mereka mencari alternatif yang lebih terjangkau. Beberapa mungkin beralih dari Gudang Garamke Sampoerna atau opsi yang paling terjangkau, yaitu produk PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
“Akhirnya konsumen berusaha untuk memotong spending mereka, mungkin alternatifnya konsumen beralih dari Gudang Garam ke HM Sampoerna, bisa juga pindah sekaligus ke yang paling murah, yaitu Wismilak,” tutur Willy.
Konsisten Bayar Dividen
Willy menekankan,dalam hal pangsa pasar, HM Sampoerna relatif stabil meskipun produk rokoknya mengalami kenaikan harga yang tidak terlalu signifikan, berkisar 2-7%, dibanding kenaikan harga Gudang Garam yang mencapai 10%.
Willy merekomendasikan saham HMSP karena kinerja bisnisnya stabil dan pembayaran dividennya konsisten. Dengan harga saham saat ini, imbal hasil (yield) HMSP bisa mencapai 7%. “Tidak ada pajak yang perlu dikhawatirkan. Kita juga harus lihat dividennya, HMSP itu konsisten bayar ke shareholder 100% dari profit mereka,” ucap dia.
Willy menyarankan investor tetap memantau saham WIIM, terutama dalam konteks perubahan lanskap konsumen. “Wismilak perlu terusdipantau karena ke depan kemungkinan masih menjanjikan,” tandas dia.
Willy mengakui, saham GGRM sejatinya tidak dalam kondisi buruk. Harga sahamnya kemungkinan hanya akan menguat ketika indeks harga saham gabungan(IHSG) berada dilevel 6.800 hingga 7.000.
“Kalau harga GGRM turundari Rp 26.000 ke Rp 22.000, itu memang karena orang-orang shifting dari GGRM ke HMSP dan WIIM,” kata Willy. (CR-3)

