HSBC Sebut RI Disukai Asing, IHSG Bisa Berlabuh di Level Rp 8.020
JAKARTA, investortrust.id – Bank HSBC memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akan berlabuh pada level Rp 8.020 pada akhir 2024.
“Jadi kami melihat beberapa keuntungan bagus di pasar ini (Indonesia). Namun saya juga akan menyoroti beberapa risiko terhadap pasar ini,” ujar Head of Equity Strategy HSBC Asia Pacific Herald van der Linde dalam HSBC Asian Outlook 2024, yang digelar secara hybrid di HSBC WTC, Jakarta, Selasa (16/1/2024).
Dalam konteks regional, dia menggambarkan bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, memiliki nilai yang sama besarnya dengan lima besar pengembang properti di China.
Para pengembang properti yang merupakan beberapa perusahaan terbesar di dunia, sambung Herald, telah melakukan banyak hal hingga mengalami kemunduran karena sumber daya manusia (talent) di China.
Baca Juga
Nilai pasar perusahaan properti dimaksud, kini sama-sama berada di posisi lima besar. Padahal bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia biasanya bukan menjadi penggerak perusahaan properti. Namun hal ini turut menunjukkan kemajuan yang dicapai pasar Indonesia selama beberapa tahun terakhir.
“Mengapa kami menyukai Indonesia saat ini? Saya pikir ada beberapa alasan untuk hal ini. Pertama-tama karena tidak terlalu mahal untuk diperdagangkan sekitar 12,7 kali lipat. Terdapat berbagai jenis penilaian (value) rata-rata lima tahun yang terlihat bagus dan dapat memberikan ide bagus,” papar dia.
Alasan kedua, Herald menilai pendapatan (earnings) dari visibilitas di pasar modal Indonesia bagus karena banyak hal yang mendorong keuntungan perusahaan-perusahaan terbuka (emiten).
Baca Juga
Gandeng HSBC, Manulife (MAMI) Luncurkan Reksa Dana Syariah ESG
Dia mencontohkan, terdapat pembangunan infrastruktur yang mampu mendorong kinerja perusahaan lebih tumbuh. Misalnya, kelengkapan infrastruktur di Pulau Jawa atau tempat lain, dipercaya mampu memunculkan pasar konsumen yang bagus untuk sepeda motor.
“Jadi ini adalah tren jangka panjang. Itu yang membantu pertumbuhan laba bagi perusahaan-perusahaan tersebut akan berjalan dengan mudah. Jadi visibilitas pendapatannya cukup bagus,” tutur Herald.
Optimisme tahun ini tetap dipegang HSBC, meski pertumbuhan pendapat sejumlah perusahaan terbuka diakui melambat tahun lalu.
“Kami menyukai pasar karena penilaiannya. Kami menyukainya karena kisah pertumbuhan yang akan berlanjut untuk beberapa waktu. Tapi ada hal lain yang juga terjadi di pasar. Pasar Indonesia sedang berkembang,” pungkasnya.

