Saham Sektor Energi dan Perbankan Melesat hingga Dorong IHSG ke 7.040, Ini Alasannya
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil kembali menembus level psikologis 7.000, ditutup naik 60,28 poin atau 0,86% ke level 7.040,16 pada Kamis (15/5/2025). Sentimen positif datang dari mencairnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang membuat saham sektor energi dan perbankan melaju pesat dua hari terakhir.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menilai pelaku pasar menyambut baik kesepakatan kedua negara tersebut, yang dianggap akan menstabilkan rantai pasok dunia, memperkuat arus perdagangan, serta mengurangi ketidakpastian geopolitik yang sempat membayangi kinerja aset berisiko.
Menurut Hendra, salah satu sektor yang paling diuntungkan dari meredanya tensi perang dagang global ini adalah sektor energi. Penguatan signifikan tercatat pada saham-saham seperti PT Ratu Prabu Energi Tbk (RATU), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).
Baca Juga
Harga Melesat dan Net Buy Asing Rp 2,15 Triliun Dua Hari, Seberapa Kuat BRI (BBRI) bisa Melaju?
"Lonjakan saham-saham ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan permintaan energi global serta potensi kenaikan harga komoditas energi, seperti batubara dan minyak bumi. Rebound teknikal yang terjadi juga memperkuat momentum beli, terlebih di saham-saham energi yang cenderung lagging namun kini mulai mendapat perhatian institusional," kata Hendra kepada investortrust.id Jakarta, Kamis, (15/5/2025).
Selain sektor energi, Hendra menyebut sektor perbankan menjadi motor penggerak IHSG. Investor asing mencatatkan net buy hampir Rp 4 triliun saham sektor ini dalam dua hari terakhir, didominasi saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA menjadi tujuan utama akumulasi.
"Hal ini menandakan kepercayaan investor global terhadap daya tahan sektor keuangan domestik, khususnya dalam mengantisipasi ketidakpastian global dan peluang pertumbuhan kredit dalam negeri," tuturnya.
Dengan melihat aliran dana asing yang deras, terutama di saham-saham sektor energi dan perbankan, serta potensi rebound teknikal IHSG menuju resistance di 7.075–7.100, maka peluang penguatan masih terbuka. Namun, Hendra menyarankan investor untuk berhati-hati terhadap aksi ambil untung jangka pendek setelah reli teknikal.
Baca Juga
Pacu Panas Bumi 1,7 GW, PGE Bocorkan Cara Cepat Monetisasi Geotermal
Dengan demikian, Hendra mencermati di tengah pulihnya sentimen pasar dan derasnya aliran dana asing saham BBRI direkomendasikan trading buy dengan target Rp 4.400, didukung kuatnya fundamental sektor perbankan dan inflow asing yang besar. Saham CMRY masuk kategori buy dengan target Rp 4.700 berkat kinerja solid di sektor consumer goods dan prospek pertumbuhan konsumsi domestik.
"Dari sektor energi, BUMI layak untuk trading buy dengan target spekulatif Rp 140, seiring momentum restrukturisasi dan sentimen teknikal yang membaik. Sementara itu, JPFA direkomendasikan trading buy dengan target Rp1.940, didorong oleh potensi pemulihan harga jual ayam dan stabilnya harga pakan," bebernya.
Masuk Overbought
Sependapat dengan Hendra, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi berpandangan kenaikan IHSG saat ini didorong respon pasar paska de-eskalasi China-AS terkait tarif.
"Meski demikian, secara teknikal saat ini IHSG sudah masuk dalam area overbought, sehingga membuka potensi aksi profit taking. Saat ini terdapat resistance di level 7.125 dan support 6.900, jika terjadi koreksi dan masih bertahan diatas level 6.900 maka kami berpandangan hal tersebut merupakan koreksi wajar," ujar Audi saat dihubungi investortrust.id Kamis, (15/5/2025).
Audi mengutarakan penguatan IHSG hari ini didorong oleh sektor keuangan yang berhasil menguat sebesar 1,13% dan energi sebesar 1,2%. Hal ini seiring dengan optimisme dari demand global, khususnya untuk energi dan normalisasi valuasi dari perbankan.

