Asing Net Sell Saham Rp 686,73 Miliar, Tiga Saham Bank Ini Dilego
JAKARTA, investortrust.id– Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 686,73 miliar sepanjang hari ini, meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (21/4/2025), ditutup naik tipis sebanyak 7,7 poin (0,12%) menjadi 6.445.
Net sell terbanyak melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 205,41 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 181,45 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 114,19 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 87,22 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp 64,24 miliar.
Baca Juga
LG Batal Investasi Rantai Pasok Baterai Rp 130 Triliun di Indonesia
Sebaliknya lima saham dengan torehan pembelian bersih terbanyak hari ini, yaitu saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 172,23 miliar, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Rp 46,20 miliar, PT Indosat Tbk (ISAT) Rp 42,24 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 16,69 miliar, dan PT Aspirasi Harapan Hidup Tbk (ACES) Rp 16,57 miliar.
Terkait penguatan indeks awal pekan ini didukung kenaikan saham sektor teknologi 3,39%, sektor material dasar 1,64%, sektor industry 0,43%, dan sektor kesehatan 0,19%. Sisanya sektor lain dilanda pelemahan.
Sedangkan saham dengan penguatan tertinggi hingga auto reject atas (ARA) dicatatkan saham PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) naik 34,55% menjadi Rp 148 dan PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menguat 24,84% menjadi Rp 980.
Baca Juga
Kenaikan juga melanda saham PT Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) sebanyak 23,20% menjadi Rp 446, PT Intiland Development Tbk (INTD) naik 17,42% menjadi Rp 155, dan PT Multitrend Indo Tbk (BABY) naik 16,35% menjadi Rp 370.
Akhir pekan lalu atau sebelum libur Jumat Agung, IHSG ditutup naik 38,22 poin (0,60%) menjadi 6.438,27. Pergerakan indeks dalam rentang 6.384-6.438 dengan nilai transaksi Rp 8,56 triliun. Pemodal asing net sell saham hingga Rp 679,86 miliar.
Kenaikan tersebut ditopang penguatan sejumlah sektor saham, seperti saham material dara 2,76%, sektor infrastruktur 2,62%, sektor teknologi 1,20%, sektor property 1,29%m dan sektor transportasi 0,80%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor consumer primer, consumer primer, dan industry.

