Lesu, Rupiah Melemah ke Rp 16.845 per Dolar AS
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah bergerak lesu sepanjang perdagangan Rabu (16/4/2025) sebagai imbas ketidakstabilan akibat kebijakan tarif resiprositas yang diterapkan Presiden AS, Donald Trump. Rupiah berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 30 poin (0,17%) ke level Rp 16.845 per dolar AS.
Adapun pada perdagangan pasar spot antarbank Jakarta, kurs rupiah bergerak stabil namun cenderung melemah dalam perdagangan hari ini. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah merosot 11 poin (0,07%) ke level Rp 16.820 per dolar AS. Sebelumnya Yahoo Finance mencatat kurs rupiah melemah ke posisi Rp 16.809 per dolar AS.
Baca Juga
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, investor terus berjuang menemukan katalis untuk mendorong pemulihan yang lebih berarti, karena pertumbuhan global secara luas diperkirakan akan melambat seiring tarif AS, yang membahayakan perekonomian global.
"Trump telah menaikkan tarif terhadap barang-barang China ke tingkat yang sangat tinggi, mendorong Beijing untuk mengenakan bea balasan atas impor AS dalam perang dagang yang semakin intensif antara dua ekonomi terbesar dunia yang dikhawatirkan memicu resesi global," kata Ibrahim dalam laporannya, Rabu (16/4/2025).
Sebagai tanda lebih lanjut dari meningkatnya ketegangan, kata Ibrahim, China telah memerintahkan maskapai penerbangannya untuk tidak menerima pengiriman jet Boeing lebih lanjut sebagai tanggapan atas keputusan AS mengenakan tarif 145% terhadap barang-barang China, Bloomberg News melaporkan, Selasa.
Selain itu, data produk domestik bruto (PDB) menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,4% secara tahunan (yoy) pada kuartal I-2025, lebih dari ekspektasi 5,2%. Sedangkan pertumbuhan PDB kuartalan berada di angka 1,2%, sedikit meleset dari ekspektasi 1,4%.
Baca Juga
Indeks Dolar Rebound, Kurs Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.815
Angka PDB yang kuat muncul setelah serangkaian langkah agresif dari Beijing hingga akhir 2024, saat pemerintah bergerak menopang pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun, angka PDB tersebut menutupi potensi hambatan bagi Tiongkok dari perang dagang yang sengit dengan AS, yang kemungkinan akan membebani pertumbuhan ekonomi kuartal mendatang. Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif kumulatif sebesar 145% terhadap China, yang memicu pungutan balasan sebesar 125% dari Beijing.

