Memasuki 2024, Begini Prospek dan Target Saham Mitratel (MTEL)
JAKARTA, investortrust.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel diproyeksikan kembali agresif berekspansi tahun 2024, setelah perseroan tercatat sebagai emiten menara konstruksi paling agresif di Indonesia sepanjang tahun ini.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Etta Rusdiana Putra menyebutkan bahwa momentum pertumbuhan MTEL akan berlanjut 2024 didukung sejumlah ekspansi perluasan jumlah menara dan jaringan fiber optic. Sementara tenancy ratio juga diprediksi terus naik.
Baca Juga
Kerek Tenancy Ratio, Mitratel (MTEL) Lakukan Strategi Berikut
"Kami mengestimasi total belanja modal perseroan mencapai Rp 5,3 triliun sepanjang 2024 dan mencapai Rp 3,3 triliun pada 2025," tulisnya dalam riset yang dipublikasi pekan lalu.
Jumlah menara Mitratel bertambah sedikitnya 2.476 unit sepanjang tahun ini atau tumbuh 7% dari akhir 2022 yang tercatat 35.418 menara. Mitratel juga membangun dan akuisisi jaringan fiber optik (fiber to the tower/FTTT) sepanjang 19.380 kilometer (KM) sepanjang tahun ini, sehingga totalnya mencapai 30.009 Km.
Mitratel juga baru-baru telah mengakuisisi 803 menara milik PT Gametraco Tunggal senilai Rp1,75 triliun dengan jumlah 1.327 tenant. Mitratel juga mengakuisisi fiber optik sepanjang 967 km dengan 1.144 km billable length dari PT Power Telecom. Mtel mengeluarkan dana Rp85 miliar pada akuisisi yang dilakukan November 2023 lalu.
"Kami berpendapat bahwa akuisisi ini merupakan hal yang strategis karena MTEL perlu memperluas basis kliennya di luar Telkomsel," ujar Etta.
Baca Juga
Akuisisi Menara dan Fiber Optik Rp 1,86 Triliun, Saham Mitratel (MTEL) Kian Menarik
Lebih lanjutm Etta mengatakan ekspansi dari operator telekomunikasi ke luar Jawa akan menguntungkan Mitratel ke depan. Apalagi perseroan memiliki sebanyak 58% atau setara denga 21.586 menara berada di luar Jawa. Tenancy ratio menara di luar Jawa tercatat 1,42x, di bawah menara di Jawa yang tercatat 1,62x.
"Kami memperkirakan jumlah menara MTEL akan mencapai 37.900 menara pada akhir 2023 dan 40.000 menara pada akhir 2024 dengan tenancy ratio sebesar 1,52x," ujarnya.
Dia menambahkan, saat ini operator telekomunikasi dengan melakukan perubahan strategi dengan mengurangi kepemilikan aset dan mengganti dengan sistem sewa (asset-light model). Hal ini menjadi peluang besar bagi Mitratel untuk memberikan layanan infrastructure as a services (IaaS) yang terintegrasi. "Oleh karena itu, model bisnis menara dapat berubah dari hanya penyewaan menara menjadi IaaS, termasuk di dalamnya menara, fiber optic, power, dan lain-lain," ujarnya.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Kembali Akuisisi 803 Menara, Manajemen Ungkap Keunggulan Ini
Namun, Etta menyoroti Mitratel harus menjaga pendanaan untuk ekspansi di tengah tren suku bunga tinggi yang berlanjut tahun mendatang. Dia memprediksi, biaya dana Mitratel akan naik menjadi Rp 1,6 triliun pada 2024, atau setara dengan 16% dari pendapatan yang diprediksi menembus Rp 9,27 triliun.
Hal ini membuat laba bersih Mitratel pada 2024 diprediksi mencapai Rp 2,4 triliun yang setara dengan net margin 26%.
Dengan prediksi tersebut, Maybank Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham MTEL dengan target harga Rp 950 untuk setahun ke depan.
"Kami masih menyukai MTEL karena peluang pertumbuhannya dari tenancy ratio yang rendah dan ekspansi fiber optic sementara kinerja pertumbuhannya sejalan dengan perkiraan kami. Namun, kami memperkirakan manajemen akan lebih berhati-hati dan strategis dalam melakukan ekspansi anorganik, terutama di tengah kondisi suku bunga yang tinggi saat ini," ujar Etta.

