Memasuki 2024, Begini Prospek dan Target Saham AKR Corporindo (AKRA)
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) didukung ekspektasi peningkatan luas lahan penjualan lahan industri perseroan. Rekomendasi tersebut juga mempertimbangkan proyeksi kenaikan volume penjualan bahan bakar minyak (BBM).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mengatakan, manajemen AKRA mematok target peningkatan penjualan luas lahan industry menjadi 130 hektare (ha) tahun 2024. Target tersebut lebih tinggi dari asumsi BRI Danareksa Sekuritas mencapai 85 ha.
Baca Juga
Biaya Modal Kerja, Dian Swastika (DSSA) Raih Fasilitas Pinjaman US$ 197 Juta
“Manajemen menyebutkan bahwa target penjualan tersebut mempertimbangkan permintaan dan diskusi dari investor asing maupun lokal,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Meski manajemen memasang target sangat optimistis terhadap penjualan lahan industri tahun 2024, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan target penjualan lahan industry sekitar 85 ha. Target tersebut merefleksikan pandangan konservatif dan peluang kenaikan investasi di tengah musim politik dalam negeri.
Terkait bisnis penjualan BBM, dia mengatakan, manajemen AKRA mematok target pertumbuhan sebanyak 5-6% tahun 2024. Kenaikan volume penjualan datang pertumbuhan permintaan pelanggan korporat dari Kalimantan dan Sulawesi.
“Meski demikian, kami mematok kenaikan volume penjualan BBM hanya mencapai 1% menjadi 2,5 juta liter tahun depan, seiring dengan perkiraan penurunan volume produksi perseroan akibat koreksi harga jual Batubara,” terangnya.
Baca Juga
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi saham AKRA dengan target harga Rp 2.000. Target harga tersebut mempertimbangkan peningkatan kinerja keuangan perseroan ke depan.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,78 triliun pada 2024, dibandingkan perkiraan tahun ini Rp 2,71 triliun dan realisasi tahun lalu Rp 2,40 triliun.

