Pasca Libur Lebaran, IHSG Diprediksi Melemah Sampai ke Level Ini
JAKARTA, investortrust.id – Pasca libur Lebaran 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melemah akibat sejumlah sentimen negatif. IHSG diprediksi akan bergerak melemah dengan rentang level support 6.150.
Head of Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi Kasmarandana menyebutkan, sentimen dimaksud meliputi depresiasi Rupiah yang kembali berlanjut, bahkan sempat menyentuh level Rp 17.200-an per USD. Kemudian pengenaan tarif impor sebesar 32% oleh AS.
“Kami berpandangan hal ini berdampak pada non migas, yakni terbesar tekstil dan produk tekstil serta manufaktur (alas kaki). Sehingga ini akan berdampak pada penurunan surplus dagang Indonesia,” jelas Audi kepada Investortrust.id, Senin (7/4/2025).
Tahun lalu saja, surplus perdagangan Indonesia terhadap AS sudah turun 18,84% (yoy) menjadi US$ 31,04 miliar, menjadi surplus terendah dalam empat tahun terakhir.
Selain berdampak pada produk non-migas, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, pengenaan tarif dagang oleh AS juga berdampak kepada peningkatan current account deficit (CAD). Pasalnya surplus perdagangan nonmigas terbesar Indonesia adalah dengan Amerika Serikat, yaitu mencapai US$ 16,84 miliar.
Baca Juga
Dampak Tarif Trump ke Pasar Modal Dipercaya Kecil, Ini Penopang IHSG Pekan Depan
Nilai tersebut merupakan 54% dari surplus Indonesia sepanjang 2024. Hal ini akan berdampak negatif untuk pasar, seiring meningkatkan ketidakpastian dan potensi perlambatan ekonomi dalam negeri.
Sentimen lain yang diperkirakan menarik turun IHSG adalah penantian rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada 10 April mendatang. Terlebih, pasca pengumuman tarif impor untuk seluruh negara yang berdagang dengan AS sebesar 10%.
“Depresiasi Rupiah diperkirakan masih akan terjadi, serta inflasi yang tinggi di AS juga akan membuat Fed menahan kebijakan suku bunga, sehingga BI rate juga berujung tertahan dan meningkatkan cost of fund,” ucap Audi.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Tertekan Akibat Tarif Trump, Sektor Saham Ini Paling Terdampak
Sebelumnya, Fed telah merevisi target inflasi AS ke level 2,7% (yoy) atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 2,5% (yoy). Hal ini memicu spekulasi pasar akan perlambatan ekonomi global.
Jika Fed kembali menunjukkan sikap untuk menahan suku bunga, maka cenderung akan direspon negatif oleh pasar. Berdasarkan data CME FedWatch, saat ini peluang pemangkasan FFR ke level 4,00%-4.25% dengan probabilitas di atas 50% hingga akhir 2025.
“Oleh karena itu, kami memperkirakan IHSG akan bergerak melemah dalam rentang level support 6.150 dan resistance 6.660, meski tren jangka pendek menunjukkan penguatan tren sebelum libur bursa,” sebut Audi.
Terakhir, IHSG ditutup di level 6.500-an pada Kamis 27 Maret 2025 yang lalu atau hari terakhir perdagangan sebelum libur lebaran. Kala itu IHSG pada penutupan naik sebesar 38,26 poin ke level 6.510,62 atau naik 0,59%. IHSG saat itu dibuka di level 6.462 dengan level tertinggi 6.510,62 dan terendah 6.417,24. Volume transaksi tercatat 13,96 miliar, turnover Rp 10,92 triliun dengan frekuensi transaksi 939.389. Sebanyak 359 saham tercatat menguat, 230 saham melemah, dan 206 saham tidak mengalami pergerakan.

