Mencegah Dampak Lebih Luas Anjloknya IHSG
Oleh Hari Prabowo,
Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pasar Modal (LP3M) Investa dan pengamat pasar modal
INVESTORTRUST.ID - Naik turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebenarnya merupakan hal biasa di bursa efek. Namun, penurunan IHSG yang terjadi belakangan ini sudah di luar kewajaran.
Jika penurunannya melebihi 5% dalam satu hari, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengategorikan hal itu sudah di luar kewajaran, sehingga otoritas bursa bisa menerapkan penghentian sementara (trading halt) perdagangan saham.
Secara year to date atau sejak awal tahun 2025, IHSG sudah turun 11,61%. Sampai 21 Maret 2025, posisi IHSG berada di level 6.258,17. Indeks pernah menembus level tertinggi di posisi 7.324,62 dan terendah 6.011,84.
Penurunan IHSG telah menjadi pembahasan dan perhatian berbagai pihak, mulai dari pelaku pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Menteri, DPR, akademisi, sampai Presiden.
Selain membuat investor berpotensi merugi, anjloknya IHSG bisa berdampak besar terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga
Pegiat Pasar Modal Hari Prabowo Luncurkan Buku "Rahasia Harga Saham", yuk Intip Isinya…
IHSG adalah cerminan kinerja keseluruhan harga saham yang diperdagangkan di bursa efek. IHSG juga merupakan salah satu indikator kondisi pasar modal.
Dalam pendahuluan Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal disebutkan bahwa pasar modal mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan nasional sebagai sumber pembiayaan dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat.
Dengan demikian, masyarakat yang berinvestasi dengan cara membeli saham atau obligasi melalui pasar modal juga turut memberikan manfaat bagi kesinambungan pembangunan negara.
Bahkan, kalau kita runut dari awal, pasar modal dimulai dari perusahaan, baik swasta maupun BUMN yang membutuhkan pendanaan. Mereka melakukan penawaran umum kepada masyarakat yang berminat untuk berpartisipasi dengan cara membeli saham sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan atas perusahaan, atau membeli obligasi (surat utang) alias meminjamkan uang kepada perusahaan.
Mekanisme penggalangan dana di pasar modal memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Perusahaan mendapatkan dana dari masyarakat guna keberlangsungan dan pertumbuhan usahanya. Sebaliknya,masyarakat sebagai investor bisa memperoleh hasil investasinya.
Investor terdiri atas investor domestik dan investor asing yang berinvestasi di Indonesia, baik dalam bentuk kepemilikan saham, obligasi korporasi, maupun Surat Berharga Negara (SBN).
Kapitalisasi pasar seluruh saham yang tercatat di BEI per 21 Maret 2025 sebesar Rp 10.848 triliun, padahal sebelumnya pernah mencapai Rp 13.475 triliun.
Untuk itu, pasar modal kita perlu dijaga bersama agar nilai investasi bisa tetap tumbuh guna pengembangan dunia usaha yang tentu akan bermanfaat bagi perekonomian nasional.
Jika anjloknya IHSG terus berlanjut, minat investasi para investor, termasuk investor asing, dikhawatirkan akan berkurang. Akibat yang lebih fatal adalah terjadinya capital outflow, baik di pasar saham maupun surat utang. Bahkan, capital outflow secara massif di pasar modal bisa merembet ke investasi langsung (direct investment).
Tentu saja capital inflow harus dicegah karena bisa mengganggu fundamental ekonomi nasional, khususnya dari sisi stabilitas nilai tukar yang dapat berdampak luas terhadap sektor riil dan perekonomian nasional secara keseluruhan.
Pelemahan nilai tukar rupiah dapat memicu inflasi barang impor (imported inflation), mendorong kenaikan suku bunga, meningkatkan biaya perusahaan, menimbulkan mismatch keuangan perusahaan akibat selisih kurs, dan mengurangi daya saing industri manufaktur nasional yang banyak mengandalkan bahan baku impor.
Lebih dari itu, pelemahan rupiah dapat memberikan tekanan terhadap APBN, di antaranya pada pos pembayaran utang. Faktanya, negara kita masih membutuhkan utang dari negara lain.
Baca Juga
Dampak lebih luas dari capital outflow adalah terjadinya perlambatan ekonomi, pelemahan daya beli mayarakat, serta meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran.
Bagaimana Solusinya?
Dibutuhkan tindakan yang bijak dan efektif dalam menyikapi anjloknya IHSG yang justru dimotori saham-saham blue chip yang sebenarnya punya fundamental sehat.
Hal itu menunjukkan bahwa para investor, utamanya investor asing, tidak mempertimbangkan faktor fundamental emiten, namun lebih ke faktor kepercayaan dan faktor eksternal.
Karena itu, pemerintah selayaknya lebih komunikatif dengan publik, termasuk dengan pelaku pasar. Dengan begitu, publik dan investor akan tetap menaruh kepercayaan tinggi kepada pemerintah.
Harus dipahami, IHSG adalah salah satu indikator perekonomian negara. Baik buruk IHSG bisa merefleksikan kondisi perekonomian nasional.
Sering tak disadari, pasar modal dan perekonomian kerap didikotomikan. Pasar saham dan sektor riil seolah-seolah terpisah, bahkan bertolak belakang. Investor pasar modal dan pelaku sektor riil seakan-akan tidak berhubungan.
Padahal, dengan berinvestasi di pasar saham, obligasi, dan reksa dana, para investor pasar modal sesungguhnya turut mendukung dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional. Mereka turut menjaga stabilitas perekonomian domestik.
Dengan membeli saham emiten atau membeliobligasi korporasi dan reksa dana, para investor sejatinya turut membantu menggerakkan sektor riil sehingga ekonomi tetap berputar. Dengan membeli surat berharga negara (SBN), terutama SBN ritel, investor turut membantu pemerintah dalam membiayai APBN.
Pemerintah harus berada di garis terdepan untuk meyakinkan masyarakat dan para investor, bukan sebaliknya. Berbagai kebijakan yang direspons negatif pasar perlu ditinjau ulang dan dikaji lebih dalam agar bisa diterima publik.
Tindakan OJK dan BEI yang cukup responsif, seperti mengizinkan emiten melakukan buyback saham tanpa harus meminta persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) terlebih dahulu serta menunda berlakunya short selling perlu disambut dan didukung. Intervensi pasar untuk kepentingan yang lebih luas sah-sah saja dilakukan.
Baca Juga
Tentu kita berharap para emiten atau perusahaan publik segera menindaklanjuti beleidini dengan melakukan aksi buyback agar saham yang valuasinya jauh di bawah harga wajarnya bisa bertahan dari penurunan lebih lanjut.
Buyback saham pada akhirnya juga akan meningkatkan kepercayaan investor. Para investor akan yakin bahwa emiten dan otoritas bursa tidak berpangku tangan saat pasar jatuh.
Demikian pula para investor, terutama investor domestik, agar tidak mudah panic selling, karena kepanikan justru akan memperparah keadaan. Harga saham pasti ada nilai fundamentalnya dan tidak akan turun terus sepanjang perusahaan masih beroperasi.
Bahkan, secara historis, investor yang membeli saham ketika pasar terpuruk berpotensi menikmati hasil yang signifikan ketika terjadi rebound. ***

