Lanjutkan Pertumbuhan, Laba Pertamina Geothermal (PGEO) Jadi Segini
JAKARTA, Investotrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berhasil mencatatkan kenaikan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 133,50 juta hingga September 2023, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 111,43 juta.
Pertamina Geothermal (PGEO) melalui publikasi laporan keuangan, Sabtu (28/10/2023) menyebutkan, kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan perseroan dari US$ 287,39 juta menjadi Rp 308,92 juta.
Baca Juga
IPO PGEO, Strategi Pertamina Group Menembus Market Cap US$ 100 Miliar
Sedangkan laba bruto naik dari US$ 164,99 juta menjadi US$ 182,71 juta hingga September 2023. Beban keuangan terlihat naik dari US$ 8,95 juta menjadi US$ 18,29 juta. Hal ini membuat pertumbuhan laba periode berjalan perseroan menjadi US$ 133,48 juta dari sebelumnya US$ 111,42 juta.
Sebelumnya, Analis Sucor Invest Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan dalam riset sebelumnya menyebutkan ekspansi kapasitas pembangkit geothermal Pertamina Geothermal (PGEO) dari 672 MW menjadi 1.272 MW pada 2027 akan menjadi faktor pendongkrak pertumbuhan kinerja keuangan perseroan.
Baca Juga
Perseroan juga didukung oleh tren peningkatan pendapatan dan margin keuntungan, seiring dengan adanya peningkatan harga pembelian listrik perseroan secara berkala oleh PT Pembangkit Listrik Negara (PLN).
PGEO merupakan perusahaan pembangkit geothermal terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas pembangkit sebanyak 672 MW dan ditargetkan melesat menjadi 1.272 MW pada 2027. Penambahan kapasitas tersebut akan menghabiskan belanja modal sekitar US$ 2,3 miliar.
Dengan demikian, pertumbuhan rata-rata kapasitas pembangkit perseroan mencapai 14% per tahun untuk periode 2022-2027. Dengan kapasitas tersebut, PGEO diprediksi mampu untuk menghasilkan 11 miliar KWh per tahun. Angka tersebut setara dengan 9% dari total kapasitas pembangkit geothermal dunia.

