HSG Diprediksi Melemah Hingga Akhir Pekan, Bahkan Support 6.249 bisa Ditembus
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi melanjutkan pelemahan hingga akhir pekan. Indo Premier Sekuritas Sekuritas (IPOT) bahkan menyebutkan bahwa IHSG berpeluang menguji level support 6.249.
Hal itu dapat terjadi, bila IHSG tidak mampu bertahan di level support penting, yakni 6.400-6.500 sebelum akhir pekan. Sebelumnya, IHSG telah melemah 1,81% selama sepekan kemarin dengan ditutup pada level 6.515.
"Level ini merupakan level support yang sudah berhasil bertahan sejak Oktober 2021 yang pada akhir bulan lalu breakdown dan membentuk lower low di level 6.249 bagi IHSG," jelas Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Dimas Krisna Ramadhani, Senin (17/3/2025).
Baca Juga
Sri Mulyani Diisukan Mundur, Dasco Sebut Prabowo Belum Berencana Reshuffle Kabinet
Jika dilihat dari indikator dana asing atau foreign flow dalam sepekan lalu dengan investor asing mencatatkan outflow sebesar Rp 3,2 triliun, Dimas menilai bahwa ada dua hal penting yang perlu dicermati.
Pertama, kenaikan yang terjadi pada IHSG sejak akhir Februari 2025 diperkirakan hanyalah mark-up, dalam sebuah fase distribusi besar yang dilakukan investor asing sejak September 2024.
Kedua, apabila kedepannya tidak ada perubahan pada indikator foreign flow maka probabilitas IHSG untuk melanjutkan penurunan menjadi lebih besar dibandingkan kenaikan.
Berbicara tentang potensi market pada 17-21 Maret 2025, Dimas mengimbau pelaku pasar saham untuk mencermati empat sentimen, yakni keputusan suku bunga Bank Sentral Jepang, Bank Indonesia (BI), The Fed, hingga ex-date dividen BCA.
Diinformasikan bahwa Bank Sentral Jepang akan mengumumkan keputusan tingkat suku bunga acuannya pada Rabu (19/3/2025). Berdasarkan konsensus, BOJ diperkirakan menahan tingkat suku bunga di level saat ini yakni 0,5%.
Melihat kondisi makro ekonomi Negeri Sakura tersebut, dengan indikator inflasi yang konsisten naik dalam dua tahun terakhir, BOJ kemungkinan besar melakukan kenaikan suku bunga ke depannya.
Baca Juga
Usai Rilis Kinerja hingga Februari, Dua Sekuritas Ini Patok Target Tinggi Saham BCA (BBCA)
"Kekhawatiran bagi pelaku pasar adalah jika BOJ mendadak meningkatkan suku bunga atas dasar menjaga stabilitas perekonomian negaranya maka hal ini akan memicu carry trade terjadi lagi,” jelas Dimas.
Diketahui, pada 5 Agustus 2024 lalu indeks saham global mengalami penurunan signifikan yang disebabkan carry trade karena BOJ saat itu meningkatkan suku bunga di luar ekspektasi pelaku pasar.
Selanjutnya pada tanggal yang sama, BI kan mengumumkan tingkat suku bunga acuan dengan konsensus diperkirakan turut menahan di level saat ini 5,75%. Jika melihat indikator makro ekonomi dalam negeri, Dimas menilai bahwa secara pertimbangan logis sebaiknya BI tetap mempertahankan tingkat suku bunga bulan ini.
"Dua indikator yang menjadi justifikasi saya adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS dan inflasi di dalam negeri. Apabila BI memangkas suku bunganya di level saat ini untuk meningkatkan inflasi karena Januari lalu Indonesia mencatatkan deflasi pertama kali sejak Maret 2000, maka akan berdampak terhadap tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS," papaar Dimas.
BI Rate
Ia menambahkan, apabila BI menaikkan suku bunga acuannya, hal ini cenderung berat dilakukan karena tren penurunan suku bunga yang dilakukan mayoritas bank sentral dunia. Kenaikan BI Rate juga justru akan semakin menurunkan kemampuan daya beli masyarakat yang digambarkan melalui indikator inflasi tadi.
"Oleh karenanya, menahan suku bunga di level saat ini saya kira menjadi keputusan yang paling tepat bagi BI bulan ini. Karena juga bertepatan dengan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang akan meningkatkan konsumsi masyarakat yang harapannya akan memberikan catatan baik untuk inflasi di bulan ini,” sambung dia.
Baca Juga
Naik 5,18% Secara Bulanan, Nilai Impor Indonesia US$ 18,86 Miliar pada Februari
Sedangkan untuk keputusan suku bunga The Fed pada Kamis mendatang juga diperkirakan dipertahankan, yakni pada level 4,25-4,5%.
Dalam sepekan kemarin, narasi kemungkinan resesi terjadi pada ekonomi AS terdengar sangat nyaring bagi pelaku pasar. Hal ini dipicu oleh ketidakjelasan kebijakan tarif yang dilakukan Trump.
"Seperti yang kita ketahui, apabila tarif impor ini diberlakukan oleh AS untuk negara-negara yang dituju maka hal ini akan membuat negara lain melakukan tarif balasan yang sama bagi AS. Hal ini akan berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang (inflasi), dan juga pertumbuhan ekonomi global," jelas Dimas
Terakhir, Dimas melihat jadwal ex-date dividen BBCA pada hari terakhir pekan ini juga akan memengaruhi pergerakan IHSG. Secara historikal, rencana pembagian dividen suatu saham akan menciptakan volatilitas bagi pergerakan sahamnya.
Sementara, BCA memiliki kapitalisasi pasar terbesar di BEI sehingga bobot pergerakan saham BBCA memiliki pengaruh besar terhadap IHSG.
"Oleh karenanya, saya ingin mengingatkan bagi investor untuk tetap mempertimbangkan kondisi market saat ini yang cenderung sangat volatile, meski momentum pembagian dividen ini sangat menggiurkan," pesan Dimas.

