Analis Ungkap Faktor Pemicu Berlanjutnya Penguatan IHSG Hari Ini, Bahkan Level 7.000 bisa Ditembus
JAKARTA, investortrust.id –Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menunjukkan tren positif setelah kemarin ditutup melesat nyaris 3%. Begitu juga dengan penutupan sesi I, Selasa (18/2/025), IHSG kembali torehkan kenaikan 44 poin (0,65%) ke level 6.875.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, penguatan indeks dua hari beruntun ditopang aksi beli saham oleh investor asing, seperti kemarin net buy pemodal asing senilai Rp 975 miliar. Asing terpantau mulai balik arah dengan membeli saham-saham perbankan jumbo, seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan TLKM menjadi incaran utama.
"Selain itu, penguatan pasar didukung faktor fundamental, terutama menjelang musim pembagian dividen emiten bank besar. Bank BRI, misalnya, berencana membagikan dividen jumbo dengan rasio 80-85% dari laba tahun buku 2024, sementara BNI dan Bank Mandiri juga memperkirakan rasio dividen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya," kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Selasa, (18/2/2025).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Naik 44,74 Poin, Tertinggi Dicatat SMIL dan DATA
Ditambah lagi, kata Hendra, rencana buy back saham oleh BBRI, BMRI, dan BBNI semakin meningkatkan daya tarik saham perbankan di mata investor. “Dalam kondisi pasar yang sedang bergairah ini, IHSG berpotensi menembus level psikologis 7.000 dalam waktu dekat,” terangnya.
Secara teknikal, Hendara mengatakan, IHSG akan menguji resistance di level MA20 pada 6.955, dan jika mampu menembusnya dengan volume transaksi yang kuat, maka target 7.000 menjadi semakin realistis. "Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati sejumlah sentimen yang bisa menjadi penghambat laju penguatan IHSG," jelasnya.
Sementara dari dalam negeri, dia berpadangan, investor tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan Rabu ini, apakah BI akan kembali memangkas suku bunga setelah sebelumnya menurunkannya ke level 5,75% pada Januari lalu.
"Selain itu, implementasi aturan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan penempatan 100% selama 12 bulan juga menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi likuiditas di pasar keuangan," terang Hendra.
Baca Juga
Gagal Menang 8 Kali Beruntun, Venezia Semakin Dekat Degradasi
Dari sisi eksternal, pelaku pasar masih menantikan risalah rapat The Fed yang berpotensi menunjukkan sikap yang lebih hawkish terkait kebijakan suku bunga. Jika The Fed mengisyaratkan penundaan pemangkasan suku bunga lebih lama dari ekspektasi, maka hal ini menurut Hendra bisa kembali menekan sentimen di pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
"Dengan berbagai faktor ini, IHSG masih berpotensi melanjutkan reli, tetapi investor tetap perlu berhati-hati terhadap risiko volatilitas yang masih membayangi," tuturnya.
Dalam kondisi ini, Hendra mencermati saham-saham seperti BBRI dengan target harga Rp 4.200, BMRI dengan target harga Rp 5.750, MDKA dengan target harga Rp 2.000, dan SCMA dengan target harga Rp 250 masih menarik untuk dicermati dalam strategi investasi ke depan.

