Bagikan

Ketegangan Global Tekan Bitcoin, Level US$ 80.000 Belum Juga Ditembus

Poin Penting

Bitcoin sempat mendekati US$79.500, namun kembali terkoreksi ke kisaran US$78.061, menunjukkan level psikologis US$80.000 masih menjadi resistance kuat.
Arus masuk dana ke spot Bitcoin ETF mencapai US$250,22 juta dalam sepekan dengan total akumulasi US$57,95 miliar, mencerminkan kepercayaan investor besar tetap solid di tengah ketidakpastian global.
Ketegangan geopolitik AS-Iran, kebijakan suku bunga The Fed, serta fenomena short squeeze di pasar derivatif menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan harga kripto saat ini.

JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) sempat menguat mendekati level US$ 79.500 pada Rabu (22/4/2026), setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke sekitar US$ 74.000 di awal pekan (20/4/2026). Level tersebut menandai level tertinggi sejak hari terakhir Januari karena angka US$ 80.000 belum terjangkau.

Pada perdagangan Jumat (24/4/2026) BTC juga belum mampu tembus level pskilogisnya dan harus turun 0,91% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 78.061.

Sebelumnya penguatan BTC didorong oleh arus masuk dana institusional yang tetap solid, tercermin dari akumulasi dana pada produk spot Bitcoin ETF sekitar US$ 250,22 juta sepanjang pekan dengan total akumulasi sebesar US$ 57,95 miliar. Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan serta kepercayaan terhadap aset kripto masih terjaga di tengah dinamika pasar global.

Baca Juga

Kuartal I, Tesla Cetak Laba di Atas Ekspektasi Meski Tertekan Volatilitas Harga Bitcoin

Menariknya, kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan AS, meskipun sebelumnya terdapat upaya perpanjangan gencatan senjata dari pihak AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen risiko global, tetapi juga oleh kekuatan permintaan, khususnya dari investor institusional dalam jangka panjang.

Menanggapi kondisi tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai bahwa penguatan Bitcoin saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin didorong oleh partisipasi investor institusional.

“Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF. Di tengah ketidakpastian global, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi,” ujar Antony dalam siaran pers, Kamis (23/4/2026).

Selain faktor permintaan institusional, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Penegasan independensi bank sentral mencerminkan komitmen The Fed dalam menjaga stabilitas ekonomi. Namun di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga di tengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.

Namun, semakin terbukanya pandangan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern turut memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto.

Baca Juga

Tertinggi Dalam 11 Pekan, Bitcoin Sempat Ke US$ 79.000-an di Tengah Ketegangan AS-Iran

Selain itu, pergerakan harga juga dipengaruhi oleh aktivitas di pasar derivatif. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak posisi jual (short) yang terpaksa ditutup ketika harga mulai naik, sehingga memicu terjadinya short squeeze. Hal ini meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kombinasi antara dinamika geopolitik, faktor makroekonomi, partisipasi institusional, serta kondisi teknikal di pasar derivatif mengindikasikan bahwa struktur pasar kripto saat ini semakin kompleks. Namun demikian, volatilitas tetap menjadi karakter utama, sehingga investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

“Bagi kami di INDODAX melihat kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang perlu disikapi secara bijak. Sehingga, kami mengimbau agar setiap keputusan investasi tetap didasarkan pada pemahaman yang matang serta pengelolaan risiko yang terukur,” tutup Antony.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024