Asing Keluar dari BEI Bawa Rp 19 Triliun, Kemana Perginya?
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, investor asing telah melakukan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp 19 triliun hanya dalam waktu dua bulan, yakni Januari-Februari 2025.
Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman pada pertemuan bersama wartawan, baru-baru ini. “Aksi jual oleh investor asing sampai 27 Februari (2025), sudah net sell sampai dengan hampir Rp 19 triliun year to date,” ujarnya.
Padahal tahun lalu BEI sempat mencetak pembelian bersih asing (net buy) sebanyak Rp 17 triliun. Namun sejak kuartal IV-2024, pencatatan net sell mulai lebih banyak dan melampaui net buy.
Dalam kesempatan yang sama, Iman mengakui bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dalam sepekan terakhir, yakni sekitar 5% dari 21-27 Februari 2025.
Dia menjelaskan, selalu ada tiga kondisi yang memengaruhi pergerakan indeks, yaitu kondisi ekonomi global, ekonomi domestik, dan kinerja masing-masing emiten. Dari sentimen global, Iman menyebut tarif perang dagang oleh Amerika Serikat (AS) dan mitranya selalu menjadi berita utama.
Baca Juga
Asing Net Sell Jumbo di Semua Pasar Keuangan Sepekan, Mengapa?
“Perang tarif AS dan mitra ini selalu ada. Trump 2.0 nggak gampang. Kemarin Bu Mari Pangestu (mantan menteri perdagangan) bilang bahwa 70% dana itu fly to equity to US. Jadi memang tidak mudah ya. Asing itu sekarang masuk ke US,” tutur Iman.
Selain perang tarif dagang, bursa juga menyadari keberadaan sentimen negatif dari kebijakan Fed yang diprediksi hanya akan menurunkan suku bunga satu kali. The Fed memberi sinyal penerapan higher for longer untuk Fed Fund Rate, bertolak belakang dengan harapan investor Indonesia yang mengharapkan penurunan tren suku bunga.
“Interest rate ini sensitif terhadap bursa, terhadap equity. Kalau interest rate naik di US, orang lebih senang beli fixed income produk,” sambung Iman.
Selain itu, direksi bursa turut mengakui bahwa pemangkasan peringkat MSCI indeks Indonesia menambah pukulan besar bagi IHSG. Iman menjelaskan, publik harus mengingat bahwa saat ini porsi investor asing di BEI ada sekitar 40% sedangkan 60% investor domestik didominasi oleh investor ritel.
“Kalau dulu terbalik, di mana 70%-nya kita domestik dan ritel, kalau turun semua langsung disapu sama domestik. Ini sekarang begitu ritelnya mulai keluar, ya teman-teman domestik makin terpuruk,” jelasnya.
Kondisi IHSG yang turun sampai menembus ke bawah Rp 6.300 juga disinyalir ikut dipengaruhi laporan kinerja keuangan sejumlah emiten besar untuk periode 2024. Pasalnya, banyak laporan keuangan emiten yang meleset dari konsensus meski sebenarnya tetap membukukan pertumbuhan.
“Ini memang jadi jadi kondisi-kondisi yang juga memperparah,” tutupnya.

