Dirut Jahja Setiaatmadja Borong Saham BBCA Jelang RUPS, Pertanda Dividen Jumbo?
JAKARTA, investortrust.id – Menjelang pelaksanaan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) PT Bank Central Asia Tbk pada 12 Maret 2025, Direktur Utama Jahja Setiaatmadja dan Direktur Santoso terpantau malah memborong saham dari pasar.
Aksi beli tersebut juga dilakukan saat saham BBCA mencapai level terendah baru dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan penutupan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (25/2/2025), saham BBCA ditutup melemah sebanyak 1,12% menjadi Rp 8.925. Level tersebut terpantau sebagai level penutupan terendah saham BBCA terhitung sejak 14 Desember 2023.
Baca Juga
Berdasarkan keterbukaan informasi BBCA di BEI, Jahja Setiaatmadja melaporkan pembelian sebanyak 337.000 saham BBCA dengan harga pelaksanaan Rp 8.900 per saham pada 25 Februari 2025, sehingga total dana yang digelontorkan hampir mencapai Rp 3 miliar.
Pembelian tersebut juga dilakukan Jahja menjelang pemberhentian dirinya dari posisi sebagai Dirut BCA yang akan digantikan Gregory Hendra Lembong. Aksi tersebut menjadikan total saham BBCA yang dikuasai Jahja bertambah menjadi 34.187.785. Nilai sahamnya setara dengan Rp 301,70 miliar dengan menghitung harga penutupan kemarin Rp 8.825.
Baca Juga
BCA Bakal Punya Presiden Direktur Baru, Ini Pesan Khusus Jahja Setiaatmadja untuk Hendra Lembong
Begitu juga dengan Santoso membeli sebanyak 20 ribu saham BBCA dengan harga Rp 8.900 dengan nilai Rp 178 juta pada 25 Februari 2025. Pembelain tersebut menjadikan jumlah saham BBCA yang dikempit Santoso bertambah menjadi 2.710.902 atau bernilai Rp 23,92 miliar.
Sebelumnya, BCA dan entitas anak melaporkan kenaikan laba bersih konsolidasi menjadi Rp 54,8 triliun sepanjang tahun 2024. Angka tersebut naik 12,7% year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kenaikan laba bersih ini didorong dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang sebesar Rp 82,3 triliun, tumbuh 9,5% yoy per akhir Desember 2024. Sementara itu, pendapatan non bunga meningkat 10,2% yoy menjadi Rp 25,2 triliun.

