IHSG Awal Pekan Anjlok 0,78%, Sejumlah Faktor Ini Jadi Pemicu Utama
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah analis menilai pelemahan laju indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (25/2/2025), sebanyak 53,4 poin (0,78%) ke level 6.749,60 dipicu faktor global dan domestik.
Analis Pasar Modal Hans Kwee mengatakan, pergerakan IHSG berasal dari sisi global, di mana pasar global khususnya Amerika Serikat (AS) turut melemah akhir pekan lalu. Sentimen tarif yang diumumkan Donald Trump pekan lalu dinilai menjadi perhatian utama pasar.
Pengumuman tersebut Trump mengisyaratkan bahwa pengenaan tarif baru terhadap kayu dan produk hutan akan diumumkan, menambah daftar sebelumnya yang mencakup mobil impor, semikonduktor, dan obat-obatan. Langkah ini mengikuti kebijakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap barang impor dari China serta tarif baja dan aluminium sebesar 25%.
Baca Juga
Astra Otoparts (AUTO) Catat Kenaikan Pendapatan dan Laba di 2024, Berikut Penopangnya
“Faktor utama adalah kebijakan Trump yang merencanakan tarif baru yang mungkin diterapkan sebelum April,” kata Hans saat dihubungi investortrust.id Senin, (24/2/2025).
Sentimen negative lainnya, menurut Hans, datang dari terobosan DeepSeek dalam kecerdasan buatan (AI) yang dapat mendorong rotasi dana saham kembali ke pasar saham China dari India. “Selain itu, ada rotasi dana ke China menyusul keberhasilan Deep Seek. Kemudian pertemuan Presiden China, Xi Jinping, dengan pengusaha teknologi China,” jelas Hans.
Sebagaimana diketahui Xi Jinping bertemu secara terbuka dengan para pemimpin industri teknologi dalam sebuah pertemuan langka, memicu harapan bahwa Beijing mulai melonggarkan kontrol terhadap sektor swasta di tengah perang dagang dengan Donald Trump.
Baca Juga
IHSG Ditutup Anjlok 53 Poin, Sebaliknya Saham ARA Bertebaran
Sementara dari sisi domestik, Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengatakan, Presiden Prabowo Subianto meresmikan program Danantara pada Senin (24/2/2025), danantara akan mengelola dana negara berkisar Rp 15.000 triliun.
"Untuk tahap awal Presiden Prabowo akan mengalokasikan sekitar Rp 300 triliun untuk proyek-proyek strategis nasional," ujar Reydi kepada investortrust.id, Senin (24/2/2025).
Peluncuran Danatara
Menurut dia, terkoreksi IHSG seiringan dengan ketidakpastian ekspektasi masyarakat dari peluncuran Danantara ini. Sentimen negatif memang spesifik menyasar ke Perbankan BUMN seperti BBRI, BBNI dan BMRI yang diprediksikan dana dari Perbankan BUMN tersebut akan disalurkan ke program-progam Danantara.
"Oleh sebab itu, isu nasabah akan tarik dana serempak dari perbankan plat merah menjadi perbincangan hangat diantara investor karena kekhawatiran pengelolaan Danantara berpotensi tidak amanah, walau begitu mengutip respon perbankan yang saya baca salah satunya Bank BNI, mengatakan bahwa komitmen tata kelola perusahaan yang baik dan fundamental perusahaan mereka yang solid tetap mereka ke depan kan," terang dia.
Terkait prospek emiten ke depan, Reydi merasa akan masih ada arus dana asing yang keluar, sampai trend suku bunga mulai turun, akan tetapi menjelang musim pembagian dividen, dengan laba bersih jumbo dari perbankan BUMN dari laporan keuangan Full Year 2024.
Baca Juga
"Saya rasa akan menaikan harga saham emiten-emiten tersebut hingga menjelang cum date dividen, kecuali jika dividen payout ratio-nya rendah karena bukan tidak mungkin laba bersih nya berpotensi akan jadi laba ditahan oleh perusahaan, untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi ke depan," ucap Reydi.
Sementara secara teknikal, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH Project, William Hartanto mengungkapkan pelemahan IHSG merupakan down tren yang masih berlanjut dari pekan lalu.
"Memang karena IHSG pekan lalu hanya technical rebound menutup gap pada 6.830 dan tidak mampu menguat lagi, jadi hari ini mengawali pekan sudah merah lagi. Jadi, ini cuma down trend yang masih berlanjut saja," tutur William.

