Isu Kenaikan Royalti Nikel Hantui Harga Saham Emiten Metal, Bagaimana Target Harganya?
JAKARTA, investortrust.id –Menyeruaknya kabar bakal diterapkan kenaikan royalty komoditas nikel telah menjadi momok negatif terhadap pergerakan harga saham emiten pertambangan logam. Apalagi isu tersebut kembali diangkat saat harga komoditas nikel cenderung mixed.
Sejumlah pemberitaan menyebutkan kemungkinan pemerintah untuk mengambil kebijakan menaikkan tarif royalty nikel dari 10% menjadi 15%. Meski demikian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tak mengetahui isu tersebut.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Timothy Wijaya mengatakan, kenaikan tersebut bisa membebani tingkat profitabilitas emiten pertambangan metal, Meski dibantah Kementerian ESDM, isu tersebut bisa menjadi hambatan terhadap laju harga saham emiten ini.
Baca Juga
ESDM Targekan Evaluasi Pemangkasan Produksi Nikel Selesai Akhir Februari
Berdasarkan perhitungan BRI Danareksa Sekuritas bahwa setiap terjadi kenaikan tarif royalty nikel sebesar 5% bisa menekan laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 9% dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencapai 3% terkait penjualan bijih saprolit.
Target Harga
Sumber: BRI Danareksa Sekuritas
Kenaikan tarif tersebut juga bisa melemahkan pertumbuhan laba bersih PT Trimegah Bangun Perkasa Tbk (NCKL) sebanyak 2% dan sebanyak 8% terhadap laba bersih PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) untuk penjualan bijih limonit.
“Kami memperkirakan kenaikan tarif mungkin paling berimbas negative terhadap laba bersih ANTM dan MBMA, karen penjualan bijih logam menjadi produk dengan margin paling besaer bagi perseroan.
Baca Juga
Merdeka Battery Materials (MBMA) Bukukan Penjualan Limonit dan Nikel Rp 8,63 Triliun
Sentimen lainnya datang dari kebijakan larangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah Filipa dalam lima tahun mendatang. Kebijakan tersebut berpotensi mengurangi pasokan bijik nikel global dan bisa berimbas terhadap penurunan pasokan nikel untuk smelter Indonesia.
Apalagi berdasarkan RKAB yang telah disetujui tahun lalu terungkap bahwa Indonesia mengimpor sebanyak 10 juta ton bijih nikel dari Filipina. “Meski demikian, kami menilai bahwa larangan ekspor bijih nikel Filipina kemungkinan lebih sulit untuk dilaksanakan,” terangnya.
Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan peringkat netral saham emiten metal. Peringkat ini juga menggambarkan harga nikal yang cenderung stagnan dan kondisi berlanjutnya kelebihan pasokan nikel global.
Baca Juga
Ada Kabar Royalti Nikel Jadi 15%, Wamen ESDM: Tak Ada Kenaikan
Sedangakn saham dengan pilihan teratas untuk sektor metal, yaitu saham PT Timah Tbk (TINS) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.300, NCKL direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.500, ANTM direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.000.
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham MBMA dengan target harga Rp 530, rekomendasi beli saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga Rp 2.400, dan saham INCO direkomendasikan hold dengan target harga Rp 3.900.
Grafik Saham Metal Ytd

