Sido Muncul (SIDO) Catat Penurunan Laba Bersih 13% Jadi Rp 950,64 Miliar
JAKARTA, investortrust.id – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 950,64 miliar di tahun buku 2023, turun 13,94% secara year on year (yoy) dari Rp 1,10 triliun pada periode yang sama tahun 2022.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Perseroan, Senin (19/02/2024), disebutkan, penurunan laba bersih sejalan dengan perolehan penjualan yang tercatat turun sebesar 7,76% menjadi Rp 3,56 triliun di tahun 2023, dari Rp 3,86 triliun pada tahun 2022.
Sementara beban pokok penjualan turun menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,69 triliun. Alhasil Perseroan mencatat penurunan laba kotor menjadi Rp 2,01 triliun di tahun 2023, dari posisi Rp 2,16 triliun pada tahun 2022.
Baca Juga
Saham Pilihan Trading Sepekan, Ada TLKM, SMGR, KEEN dan SIDO
Setelah dikurangi beban penjualan dan pemasaran, beban umum dan admnistrasi, beban lain-lain serta tambahan pendapatan lain-lain. Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp 1,19 triliun, atau turun dari Rp 1,39 triliun di tahun buku 2022.
Penurunan laba bersih membuat laba per saham juga turut mengalami penurunan menjadi Rp 31,69 per 31 Desember 2023 dari Rp 36,82 per saham pada tahun 2022.
Adapun dari sisi neraca, tercatat penurunan total asset sebesar 4,68% menjadi Rp 3,89 triliun di tahun 2023. Pada periode yang sama tahun 2022 total aset Perseroan tercatat Rp 4,08 triliun.
Meski begitu Perseroan mampu menekan total liabilitas menjadi Rp 504,76 miliar per 31 Desember 2023 dari Rp 575,96 miliar di tahun 2022.
Kemudian total ekuitas tercatat turun menjadi Rp 3,38 triliun di tahun 2023, dari posisi sebelumnya Rp 3,50 triliun.
Baca Juga
Target Kinerja Sido Muncul (SIDO) Dipangkas, Bagaimana dengan Sahamnya?
Sebelumnya, Manajemen SIDO mengakui terjadinya pelemahan daya beli masyarakat, akibat lonjakan harga kebutuhan pokok yang signifikan.
"Kenaikan harga beras berdampak pada penurunan permintaan produk kesehatan konsumen, karena konsumen saat ini lebih selektif dalam berbelanja dibandingkan triwulan sebelumnya. Saat ini, pelanggan mengarahkan prioritasnya ke kategori Makanan dan Transportasi sebagai daftar belanja utama mereka," ulas Manajemen SIDO dalam keterangan yang dikutip beberapa waktu lalu.
Meski begitu, tantangan penjualan saat ini diyakini sebagai problem jangka pendek, yang diperkirakan akan teratasi seiring dengan membaiknya daya beli, dan pelanggan akan kembali mengonsumsi suplemen herbal secara rutin kembali.

