Sido Muncul (SIDO) Sebut Kenaikan Harga Beras Picu Penurunan Laba 18,6%
JAKARTA, investortrust.id - PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) melaporkan kinerja keuangan untuk September 2023 dengan membukukan laba bersih Rp 586 miliar pada kuartal III-2023, turun sebesar 18,6% dari Rp 720 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan laba sejalan dengan angka penjualan bersih sebesar Rp2,36 triliun atau lebih rendah 9,7% dibandingkan kuartal III-2022.
Berdasarkan laporan kinerja yang disajikan, SIDO tercatat mengalami penurunan penjualan pada semua segmen bisnis di kuartal III-2023, dibandingkan tahun lalu, yaitu, segmen Herbal: -12,1%, Segmen Makanan & Minuman -2,6% Segmen Farmasi -25,6%.
Manajemen SIDO menjelaskan bahwa daya beli pelanggan terpantau lemah, akibat lonjakan harga beras yang signifikan lebih dari 20%, membuat peningkatan inflasi pangan menjadi tinggi.
Baca Juga
"Kenaikan harga beras berdampak pada penurunan permintaan produk kesehatan konsumen, karena konsumen saat ini lebih selektif dalam berbelanja dibandingkan triwulan sebelumnya. Saat ini, pelanggan mengarahkan prioritasnya ke kategori Makanan dan Transportasi sebagai daftar belanja utama mereka," ulas Manajemen SIDO dalam keterangan yang dikutip, Senin (30/10/2023).
Disampaikan, meskipun penjualan mengalami pelemahan, perusahaan mampu mempertahankan pangsa pasar yang stabil. Pangsa pasar Tolak Angin tercatat meningkat 1,4% menjadi 73% untuk periode yang berakhir September, dibandingkan tahun lalu sebesar 71%.
"Hal ini menunjukkan ketahanan kekuatan ekuitas merek yang solid, mencerminkan loyalitas pelanggan yang terus memilih Tolak Angin sebagai solusi utama untuk mencegah masuk angin demikian Manajemen SIDO.
Tantangan penjualan saat ini dipandang sebagai problem jangka pendek, yang diperkirakan akan teratasi seiring dengan membaiknya daya beli, dan pelanggan akan kembali mengonsumsi suplemen herbal secara rutin kembali.
GPM tetap stabil di angka 54% pada 9M23 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya operasional sedikit lebih tinggi sebesar 2,4%, didorong oleh biaya iklan & promosi yang lebih tinggi untuk mempertahankan pangsa pasar dan menciptakan permintaan di tingkat pelanggan akhir untuk mendukung penjualan.
Baca Juga
Emas Batangan Antam Turun Tipis Jadi Rp 1,135 Juta per Gram 30 Oktober
Dengan demikian, laba operasional inti dibukukan turun 16%, tidak termasuk kerugian nilai tukar yang belum direalisasi dari bisnis ekspor ke Nigeria.
Di tengah tantangan yang ada, SIDO mengaku tetap berkomitmen untuk memperluas portofolio produknya, seperti: Alang Sari Cool (produk RTD), Sido Muncul Vitamin C+D (produk VCD | RTD), dan Esemag (Herbal).
Bisnis RTD saat ini berkontribusi sebesar 4% terhadap segmen F&B, didorong oleh sambutan positif terhadap peluncuran Alang Sari Cool dan VCD pada November/Desember tahun lalu.
Selain itu, Esemag terus memperoleh pangsa pasar untuk kategori herbal digestion, dari 5% tahun lalu menjadi 6% pada bulan September, dan menempati posisi #5 dalam kategori tersebut.

