DBS: Bobot Alokasi di Instrumen Pendapatan Tetap Bisa Siasati Imbas Perang Dagang
JAKARTA, investortrust.id - Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook menyoroti risiko perang dagang yang akan muncul pada 2025, yang bisa menggerus keunggulan komparatif investasi yang dimiliki sebuah negara. Hou menyebutkan di periode yang menantang ini, DBS memilih menerapkan strategi alokasi dengan bobot lebih besar pada instrumen pendapatan tetap.
Risiko perang dagang ini ditandai dengan langkah presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin menerapkan tarif impor tinggi. Hou mengatakan perang dagang mengikis keunggulan komparatif tiap negara, yang juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi global.
“Sejarah telah menunjukkan tidak ada pemenang dalam perang dagang,” kata Hou, saat DBS CIO Insights 1Q25: Game Changers, yang digelar daring, Senin (13/1/2025).
“Di bawah Trump 2.0 dengan tarif perdagangan yang menjadi pusat dari agenda ekonomi akan menjadi pembuka eskalasi geopolitik dan tensi perang dagang,” ujar dia.
Sebagai antisipasi dari segala risiko yang muncul dari perang dagang, Hou menyebut DBS menggunakan strategi barbel konstruksi portofolionya pada 2024. Menurut dia, konstruksi ini dapat dicapai dengan mengambil posisi ekstrem. Misalnya, dengan membuka eksposur pada sektor saham dengan beta tertinggi yang menikmati benefit dari kebijakan ekspansionis Trump. Di sisi lain eksposur juga dibuka lebar pada kelas aset paling defensif untuk melindungi kinerja portofolio dari dampak negatif kebijakan Trump.
Barbell strategy adalah suatu strategi investasi dengan mengoleksi aset berisiko sangat rendah dan aset berisiko sangat tinggi dalam portofolio, sembari menghindari aset berisiko menengah. Tujuannya untuk menyeimbangkan potensi risiko dan keuntungan.
Baca Juga
DBS Proyeksikan Investasi di Sektor Teknologi Amerika Serikat Masih Menguntungkan
“Untuk mengurangi risiko perang dagang, DBS mempertahankan porsi besar pada instrumen pendapatan tetap,” kata dia.
Salah satu instrumen pendapatan tetap yang dipertahankan yaitu obligasi. Menurut Hou, saat ini imbal hasil obligasi lebih tinggi daripada era 2019. Hou mengatakan DBS memiliki strategi bernama Liquid Plus yang terdiri atas obligasi dengan tingkat return sebesar 4,6% pada 2024.
“Kami percaya kualitas investasi terhadap obligasi dan kredit dengan peringkat tinggi menjadi jawabannya. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai lindung nilai, tetapi juga mendapat manfaat dari risiko perang dagang,” kata dia.
Menurut Hou, langkah the Fed memangkas suku bunga menghasilkan keuntungan yang menyentuh dua digit pada obligasi dan dari berbagai segmen pendapatan tetap, baik itu investasi berjangka, kredit terstruktur, kredit sekuritas ataupun imbal hasil tinggi.
“Sekarang, karena imbal hasil obligasi hari ini lebih tinggi dari 2019, ada potensi untuk mendapatkan keuntungan yang menarik. Imbal hasil di semua sektor pendapatan tetap yang diperdagangkan, mengalami satu standar deviasi di atas rata-rata tenor 10 tahun,” kata dia.
Di luar pasang surut kebijakan AS, DBS memperhatikan berbagai faktor makro jangka panjang. DBS yakin aset berisiko akan tetap mendapat dukungan dari terkendalinya perekonomian AS, pasar tenaga kerja yang kuat, rasio suku bunga rendah yang melindungi perusahaan dari tekanan perdagangan dan mendukung margin keuntungan perusahaan.
Selain itu, DBS menyebut obligasi jangka pendek juga masih akan memberikan perlindungan terhadap modal. Bahkan, ketika ada skenario the Fed menaikkan suku bunganya.
“Dalam skenario saat the Fed menaikkan suku bunganya 100 basis poin, keuntungan untuk obligasi jangka pendek yang terlindungi masih ada di tingkat 2,9%” ujar dia.

