Suplai Nikel Mengetat, Saham Trimegah Bangun (NCKL) Bisa Melesat ke Level Ini
JAKARTA, Investortrust.id – Penurunan inventori nikel global akibat pengetatan telah memicu kenaikan harga jual nikel dalam matte dalam sebulan terakhir ke level tertinggi baru US$ 21 ribu per ton. Hal ini tentu akan berdampak positif terhadap performa PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) tahun ini.
Analis Sucur Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mengatakan, rata-rata harga jual nikel hingga kini mencapai US$ 23.200 per ton. Angka tersebut lebih tinggi dari asumsi sekitar US$ 22.500 per ton. Sedangkan rata-rata harga jual nikel Tiongkok berada dalam rentang US$ 17.150 per ton.
Baca Juga
Sekuritas Ini Rekomendasikan Beli Saham GOTO, Simak Hitung-hitungannya
“Dengan asumsi rata-rata harga jual nikel NCKL terdiskon sekitar 14% dari rata-rata harga pasar, berarti rata-rata harga jualnya masih bisa mencapai US$ 14.750 atau masih berada di atas asumsi tahun ini sektiar US$ 14.500 per ton,” tulisnya dalam riset terbarunya.
Terkait proyeksi kinerja paruh kedua tahun ini, dia mengatakan, perseroan didukung peningkatan kapasitas produksi bersamaan dengan penurunan harga pembelian batubara. Hal ini diharapkan membuat laba bersih NCKL menjadi Rp 6,1 triliun atau bertumbuh 31% dari realisasi tahun lalu.
Baca Juga
Peningkatan laba bersih tersebut didukung atas keberhasilan perseroan merampungkan pembangunan smelter kedua yang diharapkan mendongkrak volume produksi dari 37,7 ribu ton pada semester I-2023 menjadi 47 tibu ton pada paruh kedua tahun ini. Perseroan juga akan mencatatkan peningkatan margin keuntungan dari konvesi kobalt sulfat.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Sucor Sekuritas untuk merekomendasikan beli saham NCKL dengan target harga Rp 1.250 per saham. Target ini mengimplikasikan perkiraan PE tahun ini sekitar 8,7 kali. “Kami menyukai saham NCKL didukung kemampuan menghasilkan arus kas yang besar dan berlanjutnya investasi hilir dalam beberapa tahun terakhir,” terangnya.
Baca Juga
Sucor menargetkan lompatan pendapatan perseroan menjadi Rp 20,30 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 9,56 triliun. EBITDA perseroan juga diproyeksikan naik dari Rp 4,48 triliun menjadi Rp 6,20 triliun. Sedangkan laba bersih diharapkan melesat dari Rp 4,66 triliun menjadi Rp 6,32 triliun.

