Kenaikan Tarif Cukai Rokok Dibatalkan, Sahamnya bisa Bangkit di 2025?
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan pemerintah membatalkan kenaikan Tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) tahun 2025 bisa berdampak positif terhadap emiten produsen rokok, meskipun harga jual eceran (HJE) rokok diputuskan naik per 1 Januari 2025.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta meyakini bahwa pembatalan kenaikan cukai rokok bisa menjadi sentimen positif bagi industri rokok untuk memperkuat kinerja baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, emiten rokok akan mendapatkan benefit dari proyeksi peningkatan produk rokok tahun depan. Apalagi Indonesia memiliki jumlah penduduk besar dan didukung pasar perokok yang masih tinggi.
Baca Juga
Siap-siap! Harga Eceran Rokok Elektrik Isi Ulang Naik 22% per 1 Januari 2025
Sebagai informasi, Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun.
Walaupun demikian, kenaikan harga jual eceran rokok pada 2025 ini dinilai berpotensi menjadi tantangan industri. Hanya saja, kenaikan terebut diharapkan bisa dimitigasi sejumlah emiten rokok dengan sejumlah strategi.
“Dan di sisi lain industri rokok juga terus berinovasi dalam menciptakan produk baru, walaupun sekaligus juga meningkatkan dari segi marketingnya, pemasarannya, sehingga wajar saja penjualannya bisa, semestinya harapannya bisa berpotensi bagus,” ujar Nafan kepada investortrust.id, baru-baru ini.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, pelemahan beruntun harga saham emiten rokok sepanjang year to date (ytd), seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dan PT H.M Sampoerna Tbk (HMSP), diprediksi sudah mulai mencapai titik jenuh dan terbuka peluang bangkit.
Baca Juga
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham WIIM telah anjlok 1.115 poin (60,67%) menuju 720. HMSP melemah sebesar 250 poin (28,57%) ke level 625. Sedangkan GGRM juga melemah 7.550 poin (357,28%) menuju 12.700.
“Kondisi pergerakan harga saham tersebut juga merupakan efek dari adanya kebijakan pemerintah dalam membatalkan kenaikan cukai di tahun depan. Jadi ini bisa menjadikan sentimen positif bagi industri rokok dalam mereka memperkuat kinerja,” paparnya.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Nafan untuk mempertahankan rekomendasi akumulasi sejumlah saham emiten rokok. Di antaranya, saham HMSP dengan target harga Rp 800, hold atau wait and see GGRM dengan target harga Rp 15.500, serta hold saham WIIM dengan target harga Rp 710.
Grafik Saham HMSP, GGRM, dan WIIM

