Yield SBN 10 Tahun Diprediksi Berkisar 6-6,25% pada 2025
JAKARTA, investortrust.id – Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diprediksi akan berkisar 6%-6,25% pada 2025. Hal ini sejalan dengan proyeksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), yang diproyeksi mendarat pada level 5%-5,25%.
“Di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini, memilih strategi defensif menjadi salah satu opsi menarik. Sehingga berinvestasi di pasar obligasi menjadi sangat ideal untuk tujuan tersebut,” menurut Director & Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI Ezra Nazula seperti dikutip pada Rabu (18/12/2024).
Pasalnya, dia menegaskan, kelas aset obligasi menawarkan stabilitas lebih dari pembayaran kupon berkala. Secara historis, kelas aset obligasi juga mampu bekerja optimal di era pemangkasan suku bunga sehingga menawarkan potensi capital gain.
“Investor bisa berinvestasi pada beberapa obligasi sekaligus untuk tujuan diversifikasi risiko,” imbuh dia.
Ezra juga berpendapat, Indonesia masih menjadi salah satu negara berkembang yang menawarkan imbal hasil menarik. Namun dalam jangka pendek volatilitas Rupiah masih menjadi tantangan terbesar, walau dalam jangka panjang kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS) akan membuat defisit fiskal melebar.
Hal itu akan menciptakan iklim negatif bagi mata uang Dolar AS. Bertolak belakang dengan Indonesia yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan disiplin fiskal.
Baca Juga
Khusus pasar saham.
Sejalan dengan itu, peluang di pasar saham dalam jangka panjang turut diakui sangat menarik. Apalagi jika merujuk rasio price to earning (PE) forward 12 bulan di kisaran 12,1x. Level ini berada di bawah rata-rata lima tahunnya di 14,8x.
Namun dalam jangka pendek potensi volatilitas pasar saham sangat tinggi, imbas dari kebijakan-kebijakan Amerika-sentris yang memengaruhi banyak faktor. Mulai dari perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global hingga nilai tukar mata uang Dolar AS.
“Melihat tantangan makroekonomi yang tangguh, investor saham bisa melirik sektor-sektor domestik-sentris,” tegas Ezra.
Lebih khusus, sektor yang berpeluang diuntungkan oleh kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo untuk menopang daya beli masyarakat.
Sebagai strategi meningkatkan keuntungan reksa dana saham, MAMI juga akan fokus pada emiten-emiten yang menurut analisis, masih memiliki potensi pertumbuhan pendapatan di kondisi seperti saat ini. (CR-10)

